DDI Abrad

AGH Sanusi Baco Sebut Niat Pendiri Ponpes DDI Abrad Bagus

Rabu, 10 Juni 2020 17:11
AGH Sanusi Baco Sebut Niat Pendiri Ponpes DDI Abrad Bagus
Samsidar Jamaluddin

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel AGH Sanusi Baco bersama pengurus Yayasan Pusat Studi al Quran (Yasdiq)-Ponpes DDI-Abrad, di kediaman Gurutta Sanusi Baco, Jl Kelapa Tiga, Ballaparang, Rappocini, Makassar, Ahad (7/6/20) pukul 08.00 Wita.

Alagraph.com, Makassar - Anregurutta Haji Abdurrahman Ambo Dalle atau AGH Ambo Dalle mewariskan puluhan kitab yang perlu jadi pembelajaran generasi sekarang. AGH M Sanusi Baco menganggap hal itu sangat baik.

Ahad (7/6/20) pukul 08.00 Wita, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel AGH Sanusi Baco menerima kunjungan pendiri Yayasan Pusat Studi al Quran (Yasdiq), di kediamannya, Jl Kelapa Tiga, Ballaparang, Kota Makassar. 

Para pengurus Yasdiq datang silaturahmi sekaligus meminta nasihat Gurutta Sanusi Baco. Mereka yang hadir: Muhammad Azwar Kamaruddin, Jayadi Amir, Samsidar Jamaluddin, Andi Taufiq Ekaputra, Abdul Rahman Zain, Muhammad Adlan, dan Ilham M.

Gurutta Sanusi Baco, anggota majelis syuyukh Pengurus Besar Darud Da'wah Wal-Irsyad (PB-DDI), senyum-senyum ketika mengetahui bahwa yang datang kebanyakan juniornya dari DDI Mangkoso dan sekaligus alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Mangkoso-Mesir rute pendidikan yang sama dilalui Gurutta Sanusi, pula kebanyakan pembesar DDI.

Gurutta memberi nasihat seusai tausiah tentang makna minal aidin wal faidzin dan mengenang masa-masanya sebagai santri di DDI Mangkoso, delapan tahun lamanya.

"Saya [waktu itu] delapan tahun, tidak pernah menatap teman sekolah [yang] perempuan," kata Gurutta berbahasa Bugis sambil tertawa kecil.

Samsidar menyampaikan, pengurus Yasdiq telah mengumpulkan dan mengkaji kitab-kitab AGH Ambo Dalle sejak tahun 2019 akhir sampai sekarang. Ada 19 kitab yang dihimpun Yasdiq, masih diupayakan mencari karya Gurutta Ambo Dalle lainnya yang tak kurang dari 40 kitab.

Yasdiq juga menghimpun kitab beberapa ulama Ahlussunnah wal Jamaah (aswaja) Sulsel yaitu AGH Daud Ismail, AGH Muh Abduh Pabbajah, dan ulama besar lainnya.

Kitab-kitab berbahasa Arab-Bugis itu dikaji dan diterjemahkan. Karya Gurutta itu akan dijadikan mata pelajaran khusus di lembaga pendidikan Yasdiq: Pondok Pesantren DDI Abrad Makassar. Ponpes DDI Abrad tengah dibangun di Antang, Kota Makassar.

"Saya kira dengan kajian yang akan dilakukan ini, bagus sekali," kata Gurutta Sanusi, rais syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulsel.

Samsidar kemudian menyodorkan  salah satu karya AG Ambo Dalle. Buku 39 halaman berjudul: Al Hidayatul Jaliyyah. Kitab ini dua bahasa: Arab dan aksara lontara Bugis.

Terkait rencana Yasdiq memperkaya sumber kitab ulama Sulsel, Gurutta Sanusi menawarkan buku biografi ulama Sulsel, "ada itu di kantor."

Niat Bagus

AGH Ambo Dalle perhatian utama studi Yasdiq dan pendidikan di Ponpes DDI Abrad. Yasdiq beralasan, sosok pendiri MAI Mangkoso dan DDI itu menyisakan banyak karya dan cara berpikirnya dapat menjadi pendekatan solusi berbagai masalah masyarakat sekarang. Terutama masalah adab.

Tulus, adaptif, produktif, cerdas dan tangguh adalah sikap-sikap terbaca dalam catatan sejarah AGH Ambo Dalle.

Anukku anunna DDI, anunna DDI tennia anukku (Bahasa Bugis: milikku adalah milik DDI, milik DDI bukan milikku). Kalimat tersebut prinsip Gurutta Ambo Dalle dalam memimpin DDI, masih familier di kalangan tokoh DDI sampai saat ini.

Mudah beradaptasi dengan keadaan masyarakat di mana saja. Gurutta Ambo Dalle tetap mendidik umat walau bertahun-tahun ditawan gerilyawan (1955-1964). Justru masa itu kesempatan Gurutta menjangkau umat skala besar, sampai ke Sulawesi Tenggara.

Berbagai sumber mencatat, kitab tulisan AG Ambo Dalle tidak kurang dari 40 kitab. Karya tersebut mencerminkan bahwa Gurutta Ambo Dalle tidak menyia-nyiakan waktu. Ia produktif menulis, di samping aktif di mimbar dakwah.

Tanasitolo, Kabupaten Wajo, saksi masa kecil Ambo Dalle yang cemerlang. Di tanah kelahirannya ini, Ambo Dalle yang baru berusia tujuh tahun sudah hafal al-Quran. Cerdas.

Gurutta Sanusi Baco yang masih mengasuh Ponpes Nahdlatul Ulum Maros, memberi nasihat: berilmu saja tidak cukup. Masalah besar sekarang, bukan karena orang tidak berilmu.

"Maegani tau macca 'sudah banyak orang pintar', tapi [masalahnya] ketidakmampuan untuk mempergunakan apa yang ia ketahui ... gurutta, termasuk Ambo Dalle, itu melaksanakan ilmu," tutur Gurutta Sanusi Baco.

Selain mempelajari kitab ulama-ulama besar Sulsel, pengelola DDI Abrad merancang metode belajar agar santri menjiwai Gurutta dalam mengamalkan ilmu. 

"Bagus sekali ini niat, niat [DDI Abrad] sudah didengar oleh Allah," kata AGH Sanusi Baco, sahabat almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel AGH Sanusi Baco bersama pengurus Yayasan Pusat Studi al Quran (Yasdiq)-Ponpes DDI-Abrad, di kediaman Gurutta Sanusi Baco, Jl Kelapa Tiga, Ballaparang, Rappocini, Makassar, Ahad (7/6/20) pukul 08.00 Wita.
Nama Gurutta Sanusi Baco teratas dalam daftar dewan penasihat Ponpes DDI Abrad Makassar. Nama berikutnya, AG Prof Dr H Faried Wadjedy, pimpinan DDI Mangkoso.(Adlan/Sidar)

Editor: Ilham Mangenre

Tags: Ponpes DDI Abrad AGH Ambo Dalle AGH Sanusi Baco MUI
Baca Juga:
Komentar