Bencana Sulteng

Bencana Sulteng bukan Hanya Gempa-Tsunami, Mengerikan

Senin, 1 Oktober 2018 19:53
Bencana Sulteng bukan Hanya Gempa-Tsunami, Mengerikan
Kompas

Kelurahan Petobo, Palu Selatan mengalami likuifaksi pascagempa Donggala 7.4 SR, Sulteng, Jumat (28/9/2018).

Alagraph.com, Sulteng- Kemarin, Presiden Joko Widodo menyaksikan langsung, betapa dahsyat dampak bencana alam yang melanda Palu dan sekitarnya, Sulteng. Bukan hanya gempa dan tsunami.

Dahsyat, sebagaimana video-vodeo amatir yang diabadikan warganet Sulteng.

Memang, Sulteng Jumat (28/9/18) dalam terjangan bencana mengerikan rupanya.

Yang mulanya Palu-Donggala berjudul gempa dan tsunami. Di mana tsunami pintu maut utamanya. Publik pada detik-detik itu jadi teringat tsunami Aceh dan gempa Lombok.

Baca juga: Pengungsi Taman Kota Donggala Butuh Makanan

Baca juga: Petobo, Perkampungan yang Hilang Pascagempa Palu


Kemudian judul ke level mengerikan. Ada terjangan maut yang tak biasa. Tampilan bagai sepotong kiamat.

Terekam di dataran tinggi Sigi, Petobo, Balaroa. Goncangan gempa ditambah tanah bergerak, melumpur. 

Dampaknya, jangankan manusia, sekaligus apa saja di atasnya hanyut ditelan lumpur. Ya, itulah bencana likuifaksi (liquefaction).

"Proses geologi yang sangat mengerikan. Diperkirakan korban terjebak di daerah ini," tulis jubir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.

Kondisi Kelurahan Petobo pasca gempa dan tsunami Palu, sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018).

"Fenomena likuifaksi adalah tanah berubah menjadi lumpur seperti cairan dan kehilangan kekuatan," tulis Sutopo melalui akun Twitter pribadinya, Minggu (30/9/2018).

Korban bencana gempa disertai pergerakan tanah lumpu (likuifaksi) di Petobo, Palu selatan, kota Palu, Sulteng. Likuifaksi melanda Petobo akibat gempa Donggala 7,4 SR, Jumat (28/9/18). Korban ditemukan tak bernyawa, Sabtu. Satu kampung Petobo habis akibat bencana ini.

Sementara jumlah warga yang jadi korban likuifaksi belum diketahui pasti. Kabarnya ratusan warga ikut tertimbun.

"Ada lebih kurang 744 unit rumah yang tertimbun oleh material lumpur," kata Sutopo dalam konferensi pers di kantor BNPB, Jakarta, Senin (1/10/2018).

Kelurahan Petobo, Palu Selatan sebelum gempa 7.4 SR pada Jumat (28/9/2018).

Baca juga: Video: Kondisi Kelurahan Petobo, Palu

Baca juga: Jokowi Perintahkan Empat Hal Penanganan Pascagempa dan Tsunami


Tiga wilayah lainnya juga bernasib sama. Yaitu Desa Sidera (Sigi), Desa Biromaru (Sigi) dan Kota Palu terendam lumpur hingga lima meter.

Tentang Likufaksi

Dihimpun Alagraph dari Wikipedia, likuifaksi disebut juga pencairan tanah yang terjadi akibat perilaku tanah yang jenuh atau sebagian jenuh secara substansial kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan.

Biasanya memang disebabkan oleh gempa bumi yang bergetar atau perubahan lain secara tiba-tiba dalam kondisi menegang yang menyebabkan tanah seperti cairan atau lumpur.

Parahnya, jika tekanan air dalam pori-pori tanah cukup besar untuk membawa semua beban, maka bisa menghasilkan kondisi tanah langsung seperti pasir hisap.

Baca juga: Nurul Bertahan Hidup Tiga Hari di Bawah Runtuhan Bangunan

Mulanya pada satu titik, kemudian pada titik lainnya, secara berurutan, menjadi titik-titik konsentrasi awal yang mencair.

Fenomena likufaksi pernah menarik perhatian ilmuwan setelah gempa bumi di Niigata tahun 1964 dan Alaska 1964.

Pencairan juga faktor utama kerusakan di Distrik Marina San Francisco setelah gempa bumi Loma Prieta tahun 1989 dan di Pelabuhan Kobe akibat gempa bumi besar Hanshin tahun 1995. (Alagraph/Instagram/Wikipedia/berbagai sumber)


Penulis: Ilham Mangenre
Editor: Ramdha Mawaddha
Sumber: Alagraph

Tags: BNPB Tsunami Palu Kelurahan Petobo Likuifaksi
Baca Juga:
Komentar