AG-user

Bulan Terbelah di Langit Marvel

Jumat, 26 Juli 2019 13:17
Bulan Terbelah di Langit Marvel
AG-User (Abd Muid N)

Ist

Ada yang berbeda dalam film Marvel Studios yang masih tayang hingga Juli 2019, Spiderman: Far form Home. Spiderman, yang dikisahkan masih menempuh pendidikan di tingkat sekolah menengah atas, memiliki teman sekelas yang memakai hijab. Namanya, Zoha (diperankan oleh Zoha Rahman). Dia disebut sebagai first hijabi character in the MCU

Sesungguhnya kehadiran nuansa Islami di Marvel bukanlah hal yang baru, meski di Semesta Sinematik Marvel (MCU) adalah yang pertama. Sebelumnya telah ada karakter yang bahkan lebih kuat karena adalah seorang super hero perempuan yang bernama Kamala Khan. Dikabarkan, karakter super hero ini akan dibuatkan serialnya sendiri. Pertama kali, karakter Kamala Khan hadir di seri Captain Marvel di tahun 2013.

Bagaimana membaca kenyataan ini? Apakah ini tanda kemenangan kapitalisme yang mampu merasuk ke semua lini kehidupan, termasuk lini agama? Jika benar, maka ada satu kalimat kunci: Apapun itu akan dieksploitasi oleh kapitalisme untuk semakin memperkaya dirinya. Minat kepada bacaan, termasuk kepada komik yang diproduksi oleh Marvel, sangat tergantung kepada keterlibatan dan keterwakilan identitas pembaca di dalam bacaan-bacaan mereka. Minat baca (dan beli) pembaca Muslim dipastikan meningkat jika mereka merasa terlawikili oleh bacaannya.

Atau apakah itu adalah tanda kemenangan agama atas kapitalisme? Bisa saja iya. Bagi Generasi M, kenyataan itu adalah demonstrasi atas meningkatnya pengaruh dan kekuatan konsumen beragama Islam yang mau tidak mau harus dipertimbangkan oleh siapapun juga, termasuk oleh kapitalisme. Generasi M berkata: “Ini bukan eskploitasi, tetapi eksplorasi.” Generasi M adalah istilah yang disebutkan oleh Shelina Janmohamed dalam bukunya, Generation M: Young Muslims Changing the World (2016).

Atau sesungguhnya yang sedang terjadi adalah selebrasi keragaman identitas. Marvel sendiri sepertinya sudah lama mendengar keluhan betapa hampir semua super hero yang mereka adalah anggota ras kaukasoid yang berkulit putih dan berambut pirang. Lalu dihadirkanlah karakter Black Panther (T’Challa) yang berkulit hitam dan berambut kriting dan dunia pun bergembira ria hingga Majalah Time yang terkenal itupun menjadikannya sampul untuk salah satu edisinya.

Jika keterwakilan beragam ras bisa diakomodasi, lalu mengapa tidak untuk keragaman agama? Ya, Kamala Khan adalah bukti giliran Islam untuk mengajukan wakilnya. Dan karena semua itu berada di dalam kerangka keragaman identitas, maka seorang Kamala Khan pun berada di dalam identitasnya yang cair. Dia memang seorang warga Amerika keturunan Pakistan. Sisi Pakistannya tampak dari warna kulitnya yang tidak putih, tetapi sisi Amerikanya tampak dari caranya berpakaian. Dia tidak memakai hijab sebagaimana karakter Zoha di dalam Spiderman: Far from Home. Meski demikian, isu-isu yang diangkat dalam kisah komiknya tidak jarang tentang bagaimana menjadi Muslim yang baik sekaligus warga negara yang baik dan juga sekaligus pahlawan super yang baik. 

Yang lebih unik adalah karakter Jiya dalam film Burka Avenger. Karakter ini bukan bagian dari Marvel. Meski menggunakan judul Burka, karakter pahlawan super ini tidak memakai hijab dalam kehidupan sehari-harinya sebagai guru, dan hanya memakai hijab ketika beraksi demi merahasiakan siapa sesungguhnya dia.

Lalu di mana sisi Islamnya jika tidak memakai hijab? Aaron Haroon Rashid, pencipta karakter Burka Avenger, menegaskan bahwa memang dia tidak memakai  hijab, tetapi pakaian yang dipakai oleh Burka Avenger—juga Ms. Marvel/Kamala Khan—jauh lebih tertutup dibandingkan dengan para pahlawan super perempuan yang umumnya berpakaian terlalu menggoda seperti Catwoman dan Wonder Woman.

Kembali ke pertanyaan awal: Apa yang sesungguhnya sedang terjadi? Barangkali yang terjadi adalah tetap kapitalisme sebagai sumbu utama hingga siapapun harus tunduk kepada aturannya, baik itu agama maupun identitas. Tapi itu barangkali semata. Bisa juga yang sesungguhnya terjadi adalah perayaan identitas dan salah satunya adalah identitas keagamaan Islam. Jika yang terakhir ini yang benar, maka harus ada kesediaan bagi identitas keagamaan Islam untuk berkompetisi secara sehat dengan identitas-idetitas lain, termasuk identitas keagamaan lain. Jika kompetisinya tidak sehat, maka sesungguhnya yang terjadi bukanlah perayaan keragaman, tetapi dominasi satu identitas atas identitas lain dan bukankah itu yang selama ini kita tolak?[]

Bahan Bacaan

Shelina Janmohamed, Genartion M: Generasi Muda Muslim dan Cara Mereka Membentuk Dunia, terjemahan Yusa Tripeni, Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2017.

Abd Muid N

Abd Muid N

Dosen Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta
Tags: Abdul Muid N MCU
Komentar