Cara Mendapat Asuransi untuk Ternak Sapi

Jumat, 15 Maret 2019 06:09
Cara Mendapat Asuransi untuk Ternak Sapi
Ist

Ilustrasi peternak sapi.

Alagraph.com- Sekarang peternak tidak perlu khawatir ketika terjadi kematian atau kehilangan, khususnya ternak sapi. Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian menggulirkan program Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS).

Undang-Undang Nomor 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani (UUP-3) pasal 37 menyebutkan bahwa Pemerintah berkewajiban untuk melindungi usaha tani yang dilakukan petani atau peternak dari kerugian akibat gagal panen dalam bentuk asuransi. 

Kini peternak sapi terlindungi dengan adanya asuransi AUTS ini. 

Bagi peternak yang berminat bisa berhubungan langsung dengan koperasi yang bekerja sama dengan penyelenggara asuransi.

Dilansir dari situs resmi ditjenpkh.pertanian, bahwa tidak semua peternak sapi mendapatkan manfaat perlindungan dari asuransi ternak ini. Penerima polis asuransi ternak sapi merupakan pelaku usaha penggemukan atau pembibitan baik sapi potong maupun sapi perah. 

Peternak sapi juga harus bergabung dalam kelompok ternak aktif dan mempunyai pengurus lengkap. Di samping itu peternak bersedia menerapkan manajemen pemeliharaan ternak yang baik (Good Farming Practise dan Good Breeding Practise). 

Adapun kriteria sapi yang terlindungi asuransi adalah sapi potong dan sapi perah yang dimiliki pelaku usaha. Jumlah minimal sapi yang diasuransikan adalah 4 ekor untuk satu pemohon, baik perorangan, koperasi, ataupun perusahaan. 

Sapi memiliki penandaan atau identitas yang jelas berupa microchip, eartag atau yang lainnya. Mengenai umur, sapi yang terlindungi berumur 8 bulan sampai 6 tahun. Namun tidak semua resiko dijamin perusahaan asuransi. Hanya faktor kehilangan berupa kecurian dan faktor kematian karena penyakit dan kecelakaan termasuk mati karena melahirkan. 

Dalam teknis pelaksanaan asuransi ternak ini, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp 19,2 miliar untuk subsidi.

Namun, program asuransi untuk sapi ternak mandiri sejauh ini dinilai masih mengalami kendala. Premi asuransi ternak sapi mandiri sebesar Rp 200.000 per ekor per tahun dengan nilai pertanggungan sebesar Rp 10 juta per ekor.

Untuk program ini, pemerintah memberikan subsidi sebesar 80 persen atau Rp160.000, sehingga sisanya Rp 40.000 per ekor atau 20 persen dari premi dibayar oleh peternak. 

Disisi lain, asuransi ternak sapi bagi peternak yaitu memberikan ketentraman dan ketenangan sehingga peternak dapat memusatkan perhatian pada pengelolaan usaha dengan lebih baik.

Asuransi sebagai pengalihan risiko dengan membayar premi yang relatif kecil peternak dapat memindahkan ketidakpastian risiko kerugian yang nilainya besar.

Data yang diperoleh dari Kementan menunjukkan, jumlah kepesertaan asuransi ternak sapi di tahun 2016 adalah 20.000 ekor. Pada tahun 2017 meningkat menjadi 92.176, tahun 2018 menjadi 21.130 dengan total 133.306 ekor sapi yang ikut asuransi.

Baca juga: Pemerintah Sediakan Rp 40 Juta Hibah Bina Desa bagi Mahasiswa

Program asuransi ini difokuskan pada perlindungan dalam bentuk ganti rugi kepada peternak jika sapi mati karena penyakit, kecelakaan, beranak, atau hilang akibat dicuri. Dengan begitu, peternak dapat meneruskan usahanya dengan membeli indukan sapi.

Untuk jenis sapi bibit, besarnya premi yang dibayar sebesar Rp. 300.000 dengan nilai pertanggungan sebesar Rp. 15.000.000 dan jangka waktu pertanggungan asuransi selama 1 tahun dimulai sejak melakukan pembayaran premi asuransi yang menjadi kewajiban peternak. 

Program AUTP telah disosialisasikan kepada petani-peternak melalui petugas Dinas Peternakan dan Penyuluh Pertanian yang ada disetiap kabupaten/kota Provinsi.

Baca juga: Perhatikan Ini untuk Bisnis Ayam Potong Pola Kemitraan

Adapun risiko yang tidak dijamin pihak asuransi antara lain kematian sapi akibat wabah Anthrax, Septicemia Epizootica, Johne’s Disease, Tuberculosis, Anaplasmosis, Leucosis. 

Kemudian adanya pemusnahan sapi karena terjadinya wabah atas perintah yang berwenang, kematian sapi akibat kelalaian peserta asuransi, pegawai atau petugas kandang dalam pengelolaan pemeliharaan ternak juga tidak ditanggung. 

Faktor lain risiko tidak dijamin yakni akibat penjarahan, pemogokan, pertikaian karyawan, peperangan, pemberontakan, pembangkangan dan kontaminasi radiangin topan juga tidak ditanggung.

Apabila hewan ternak mengalami risiko kematian dan peternak ingin memproses klaim polis, segera urus dokumen klaim dan menghubungi dokter hewan atau tenaga teknis yang telah ditunjuk dinas setempat. 

Klaim dapat diajukan dengan ketentuan bahwa premi rutin dibayarkan, terjadi kematian atau kehilangan ternak sapi yang diasuransikan dan terjadi selama jangka waktu pertanggungan. Jangka waktu pertanggungan asuransi pada dasarnya berlaku selama 1 tahun sejak terjadi kesepakatan asuransi yang dibuktikan dengan diterbitkannya polis asuransi ternak sapi.

Jika terjadi kematian sapi, penerima polis segera menghubungi dokter hewan atau petugas teknis yang ditunjuk. Jika terjadi pencurian atau kehilangan sapi, penerima polis langsung melaporkan kehilangan ke kantor kepolisian setempat. 

Untuk proses klaim, peternak melengkapi beberapa dokumen klaim seperti fotokopi polis asuransi, berita acara kehilangan atau kematian sapi dari penerima polis yang ditandatangani pejabat dinas peternakan dan kesehatan hewan di Kabupaten/Kota setempat. 

Peternak harus menampilkan surat keterangan kehilangan kepolisian setempat jika terjadi kehilangan, dokumentasi dan foto-foto kematian (jika terjadi kematian) dan hasil visum dari dokter hewan dan petugas teknis yang berwenang. Jumlah penerimaan klaim juga disesuaikan dengan resiko yang menjadi penyebab proses klaim. 

Untuk faktor kematian karena sakit dan peternak sempat menjual dagingnya, klaim yang diterima akan berkurang dengan jumlah hasil perolehan (penjualan) yang diterima peternak. (*)

Penulis: Hardianti Jamal
Editor: Sriwidiah Rosalina Bst

Komentar