AG-user

AG-User

Dinas Perpustakaan Makassar Bedah Puisi

Kamis, 25 April 2019 15:19
Dinas Perpustakaan Makassar Bedah Puisi
AG-User (Iqbal Tehuayo)

Suasana berlangsungnya acara bedah buku di hotel continent centrepoint, jalan Adhyaksa No.15 Makassar.

Dinas Perpustakaan Kota Makassar menggelar bedah buku di Hotel Continent Centrepoint, Jln. Adhyaksa No.15, Kamis (25/04/2019).

Kegiatan yang bertema bedah buku Sehimpun Puisi Mantara Cinta ini dihadiri lansung oleh sekretaris dinas pendidikan kota makassar dan beberapa penulis senior.

Rusdin Tompo sebagai penulis buku sehimpun puisi Mantra Cinta menjelaskan, buku yang ditulisnya bukanlah hasil dari imajinasi belaka, tapi semuanya ditulis berdasarkan fakta yang dibuat dalam bentuk fiksi.

Rusdin menceritakan puisi-puisi yang ia tulis dalam buku Mantara Cinta ini merupakan kumpulan-kumpulan puisi yang ditulis selama tiga puluh tahun lebih, mulai dari SMP, SMA, hingga Mahasiswa.

Dalam membuat puisi, ia terkadang termotifasi dari alam yang indah, hubungan asmara, hingga tulisan-tulisan kegalaun yang ditemui di Fecebook orang.

"Sebelum menjadi puisi yang tersusun rapi, puisi-puisi tersebut ditulis di atas lembaran koran bahkan kertas yangg kusut, sebab takutnya ide yang muncul bisa akan menghilang begitu saja bila kita tak menulisnya," tuturnya.

"Kita ingin membuat suatu puisi yang indah di tempat-tempat yang mengagumkan, namun terkadang ide itu baru muncul setelah kita meninggalkan tempat itu, hal ini terkadang dirasakan oleh seorang penulis puisi", curhatnya.

Harapan Rusdin kepada generasi milinials bahwa bila muncul sebuah ide maka tulislah, sebab ide itu mempunyai potensi untuk menjadi karya tulis di masa yang akan datang.

Eddy Thamrin selaku pembedah buku tersebut menjelaskan tentang kata mantra yang diambil sebagai judul buku ini.

Eddy menyatakan bahwa mantra adalah sebuah kata atau ucapan yang mempunyai kekuatan gaib yang dapat mempengaruhi  orang lain, hal tersebut menjelaskan bahwa dalam buku puisi ini mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi orang lain dengan penggunaan diksi yang menarik.

"Dalam era revolusi industri 4.0 ini perkembangan teknologi semakin pesat, hingga karya tulis tak butuh waktu yang lama untuk bisa dipublikasikan atau diterbitkan. Oleh sebab itu masyarakat milenial seharusnya memanfaatkan hal tersebut untuk tetap berkarya," tutur Edy.

Setelah tanya jawab antara peserta dengan penulis, rangkaian acara diakhiri dengan pembacaan puisi dari Eddy Thamrin dan beberapa peserta.

Ikbal Tehuayo

Ikbal Tehuayo

Penulis pinggiran
Tags: Dinas Perpustakaan Makassar
Komentar