AG-user

Gau' Maraja: Sinergitas dan Tantangan Baru Kesenian Sulsel

Jumat, 3 Januari 2020 22:24
Gau' Maraja: Sinergitas dan Tantangan Baru Kesenian Sulsel
AG-User (Dita Pahebong S. Sn)

Foto Abd Razak : Pertunjukan Tari kolosal Gau Maraja

Menonton perhelatan akbar yang dilaksanakan oleh BPNB Sul-Sel Merupakan keberuntungan yang luar biasa. Perhelatan Akbar yang bertajuk Gau Maraja Yang dihelat pada Tanggal 25-26 Oktober 2019 di CPI (Centre Point of Indonesia), perheletan tersebut memberikan inspirasi yang luar biasa bagi kami. Pada pembukaan yang menyajikan tari kolosal dengan peserta yang berasal dari 21 komunitas/sanggar seni yang terdapat diberbagai daerah di Sulawesi Selatan. Oleh karena itu saya mengapresiasi dengan menuliskan kesan-kesan yang saya rasakan saat menonton perhelatan tersebut. 

Tulisan ini tentu tidak sepenuhnya benar karena setiap penonton  mempunyai pandangan secara subjektif terhadap apa yang mereka jumpai. Pada tulisan ini, saya mencoba melihat secara umum terkait kondisi kesenian di sulawesi Selatan  dan mencoba menghubungkan dengan perhelatan tersebut. 

Menurut pidato Bapak Hilmar Farid Pada dialog nasional yang saya akses di akun youtube Direktorat Kepercayaan Tuhan YME. Beliau mengatakan bahwa komunitas, dan pemerintah merupakan penjuru untuk kelestarian kebudayaan. Beliau juga memberikan karikatur terhadap kondisi sosial saat ini. Dimana kondisi kita sedang berada  pada kehidupan yang serba digital. Bahkan dengan terang beliau mengatakan bahwa pada realitas sosial kita, sering menjumpai sekelompok anak muda duduk melingkar dan sibuk dengan handphone masing-masing. Beliau mengibaratkan bahwa generasi saat ini telah menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Tentunya kondisi semacam ini menjadi tantangan yang tidak mudah bagi pemerintah dan komunitas seni yang mempunyai tanggung jawab pada pemajuan, dan pengembangan kebudayaan. 

Saya ingin menggaris bawahi perkataan beliau terkait dengan penjuru yang mempunyai tanggung jawab dalam hal pemajuan kebudayaan khusunya di Sulawesi Selatan yang tak lain adalah BPNB Sul-Sel dan Juga Komunitas/sanggar Seni yang ada di Sulawesi Selatan. 

Pada pertunjukan tari Kolosal yang melibatkan 21 komunitas/sanggar Seni tentu sejalan dengan Apa yang diharapkan oleh Bapak Hilmal Farid salah satunya adalah membangun sinergitas pada generasi muda dalam upaya pelestarian kesenian. Tentu ini menjadi kebanggaan bagi kita bersama melihat antusias generasi muda dalam acara tersebut yang tidak lain adalah sebagai upaya pelestarian. 

Pada repertoar lain juga kita menjumpai pertunjukan rakyat yakni kondo buleng dari paropo, juga Paraga, dan beberapa tari kreasi yang cukup menghibur pada malam itu. Dengan beragamnya model pertunjukan yang kita jumpai pada perhelatan Gau Maraja tentu memberikan juga ragam informasi terkait kesenian Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, hemat saya perhelatan Gau maraja merupakan ruang yang kaya akan kesenian. Baik seni tradisional ataupun seni dalam bentuk kreasi. 

Terkait bahwa BPNB Sul-Sel Merupakan salah satu pilar penting yang mempunyai tanggung jawab pada pelestarian Nilai budaya, oleh karena itu saya mencoba melihat bahwa setiap pertunjukan merupakan media komunikasi berupa simbol yang mengandung makna yang mewakili suatu pengertian yang abstrak, luas, dan Universal. Dengan demikian, setiap repertoar tentunya mempunyai informasi yang berbeda yang ditawarkan kepada penonton. 

Saya mencoba mencermati kembali bahwa banyaknya karya tari kreasi yang disajikan dari beberapa komunitas sebagai suatu spirit baru, meski demikian tentu ini bukan satu-satunya spirit bagi sanggar seni. Karena spirit kreasi tentu dengan sendirinya akan menjauhkan kita pada "model" tari tradisional Sulawesi Selatan. Saya yakin bahwa tidak satupun sanggar seni yang dengan sengaja berfokus pada kekaryaan yang bersifat kreasi dan ingin menjauhkan dirinya pada model kesenian tradisional. 

 Tari kreasi juga tidak terlepas pada konteks sosial masyarakat Sulawesi Selatan. Salah satu contoh tari Patingro anak dengan model kreasi. Tentu secara pesan yang ingin disampaikan terkait dengan peristiwa menidurkan anak dalam konteks masyarakat Sulawesi Selatan. Tetapi model gerakan seperti itu sudah tidak lagi terpaku pada model gerakan khas penari perempuan Sulawesi Selatan yang kita kenal lembut seperti beberapa karya Tari ciptaan Ibu Anida Sapada. Saya ingin tekankan bahwa karya Kreasi bukannya Buruk, bahkan dengan karya model baru akan lebih menarik dan lebih mudah menyesuaikan dengan penonton milenial. Namun disisi lain kita juga perlu memikirkan tentang model gerakan penari perempuan khas Sulawesi Selatan seperti pasalaongreng, Pakarena, pakkurru sumanga, dan lainnya. 

Selain itu pada pertunjukan Gau Maraja yang melibatkan beberapa sanggar yang terdapat diberbagai daerah di Sulawesi Selatan tentunya belum cukup untuk mengkampanyekan seluruh item kesenian di Sulawesi Selatan. Pasalnya, item pertunjukan pada perhelatan tersebut masih dominan pada seni tari. Sementara yang kita ketahui bahwa masih banyak musik-musik daerah yang masih merangkak untuk sampai pada panggung-panggung besar salah satunya seperti mandaliong, pakacaping, pagambusu' Dll. 

Meski instrument musik semacam ini tetap hadir pada pertunjukan gau Maraja namun peranannya hanya sebagai pengiring tari bukan ansambel dari instrument itu sendiri. Saya yakin bahwa BPNB sul-sel bukan tidak mampu untuk merekrut komunitas musik daerah tetapi setiap kegiatan tentu mempunyai keterbatasan waktu dan tenaga pada setiap penyelenggaraan. Oleh karena itu besar harapan untuk ada perhelatan serupa yang mengutamakan musik-musik tradisonal yang terdapat di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Dan juga berharap bahwa kegiatan seperti ini bukan hanya dilakukan oleh BPNB Sul-Sel tetapi seluruh komunitas yang notabene element pengembangan kesenian  yang paling dekat dengan masyarakat. 

Besar harapan dengan kegiatan gau Maraja tersebut, kita kembali menemukan ide-ide segar, sehingga dapat menciptakan ruang-ruang alternatif untuk menjaga, mengembangkan, melestarikan, kesenian Sulawesi Selatan sebagai salah satu karakter masyarakat Sulawesi Selatan. 

Dita Pahebong S. Sn

Dita Pahebong S. Sn

Etnomusikologi ISI Yogyakarta
Tags: CPI Seni
Baca Juga:
Komentar