Opini

Gurita Utang Ribawi Jerat Pendidikan Islami

Sabtu, 13 Juli 2019 16:37
Gurita Utang Ribawi Jerat Pendidikan Islami
ist

Kameliani, M.Pd (Aktivis Muslimah)

Oleh: Kameliani, M.Pd (Aktivis Muslimah)

Alagraph.com - Indonesia kembali memperpanjang daftar utang pada Bank Dunia, dengan menerima kucuran dana pinjaman sebesar US$250 juta atau setara Rp3,5 triliun (dengan asumsi kurs Rp14 ribu per dolar AS) untuk mendukung program peningkatan mutu madrasah dasar dan menengah di Indonesia (cnnindonesia.com, 28/06/2019).

Berdasarkan catatan Bank Dunia, sekitar 8 juta anak atau 15 persen dari total siswa sekolah dasar dan menengah di Indonesia mengenyam pendidikan di sekolah agama di bawah Kementerian Agama (Kemenag). Dalam praktiknya, sekolah-sekolah tersebut mengikuti kurikulum nasional, dan banyak diikuti anak-anak dari keluarga termiskin di daerah pedesaan (cnnindonesia.com, 28/06/2019).

Menteri Agama Lukman mengungkapkan Indonesia memiliki setidaknya 48 ribu madrasah, yang terdiri dari madrasah negeri dan swasta. Menurut Lukman, pengembangan madrasah tidak akan optimal jika hanya mengandalkan anggaran negara. Pasalnya, keterbatasan dana mengakibatkan pengembangan madrasah lebih terpusat pada pengembangan bangunan fisik, belum ke arah kualitas pendidikan (cnnindonesia.com, 28/06/2019).

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Buya Anwar Abbas berpendapat bahwa masalah ini dapat dibiayai sendiri dengan dana APBN, yang caranya adalah dengan mengurangi tingkat kebocoran yang ada.

Lebih lanjut Anwar menjelaskan bahwa dalam perhitungan para ahli, tingkat kebocoran dari APBN itu ada di antara 10 sampai 30 persen. Menurut dia, jika adanya kebocoran APBN itu bisa ditutup, maka akan tersedia dana sekitar Rp 200 triliun hingga Rp 600 triliun.

Dengan demikian, tidak perlu berutang ke luar negeri hanya untuk membiayai peningkatan kualitas madrasah atau program-program lainnya. Anwar mengakui, peningkatan mutu dan kualitas madrasah sangat penting. Akan tetapi, pembiayaan yang ideal harus diupayakan tidak melalui jalan utang (republika.co.id, 21/06/2019).

Pemerintah memang seharusnya mencari pembiayaan lain selain utang. Apalagi dalam sistem kapitalis hari ini, berlaku istilah no free lunch. Tidak ada makan siang gratis. Tidak ada utang tanpa imbalan. Tak ada negara yang sukarela membantu negara lain secara cuma-cuma. Selalu diwarnai kepentingan dan tujuan tertentu.

Utang luar negeri tak ubahnya alat Neo-Imperialisme atau Neo-Kolonialisme (penjajahan gaya baru). Utang luar negeri membuka jalan untuk

Editor: Ass. Editor 07
Sumber: Alagraph

Tags: Riba Pendidikan Islami Bank Dunia Kameliani
Komentar