AG-user

Opini

Kolonial Jaman Milenial

Selasa, 3 September 2019 20:48
Kolonial Jaman Milenial
AG-User (Ikbal Tehuayo)

Ilustrasi kecanduan Media Sosial

Sebagai bangsa yang perna tertusuk duri penindasan tentu tak asing bagi kita kata "kolonial" ( penjajah ) meskipun hanya sekedar melintas di telinga.

Tinta penah bangsa telah mengabadikan catatan di atas lembaran-lembaran sejarah, bahwa selama 350 tahun bangsa kita dengan sekuat tenaga serta mengikhlaskan nyawa dan darahnya di tumpahkan demi melepaskan diri dari belengguh kaum kolonial (penjajah).

Udara kemerdekaan yang terhirup segar dikala fajar mulai tampak di ufuk timur tak lain dari cerminan ketulusan para pejuang demi menggenggam kebahagiaan untuk anak bangsanya.

Telah tertanam jauh didalam dada pejuang, bahwa penjajahan merupakan virus yang dapat merambah tumbuh kembangnya suatu bangsa. Terlihat jelas di zaman penjajahan, kaum pribumi disekolahkan hanya sekedar bisa membaca dan menulis. Sungguh sangat memprihatinkan.

Sejak 1945 hingga kini kemerdekan bangsa kita suda memasuki usia 74 tahun. Bila di usia ini dengan bangga kita katakan telah terbebas dari cengkraman kolonial ( penjajah ) maka sungguh kita berada pada lingkaran kekeliruan yang amat besar.

Di zaman milenial ini penjajahan tak lagi berbusana lama, ia hadir dengan desain yang baru. Ancaman dan petaka akan menusuk kita bila tak ada kemampuan untuk mengenal dan menyadari bahwa kita sedang dijajah.

Sadar maupun tidak, hingga detik ini aktivitas penjajahan sedang berlangsung. Tentu bukan perang dengan berbagai bom dan senjata tajam seperti pra kemerdekaan.

Salah satu lahan terluas untuk melakukan aksi penjajahan adalah media massa dan media sosial atau biasanya dibilang dunia maya.

Kehadiran medsos seakan menyulap manusia layaknya makhluk amfibi yang hidup di dua alam, Yaitu alam maya dan alam nyata. Hubungan antar sesama pun sekan tak ada tembok pembatas dan terasa bagai di dalam ruang yang sama.

Dunia maya bagi manusia belakangan ini bukan lagi gaya hidup melainkan kebutuhan hidup, bisa di bilang roh dari kehidupan manusi, tanpa dunia maya, manusia seakan terserang virus kegelisahan.

Meskipun semua itu merupakan gambaran dari adanya lompatan pengetahuan dan teknologi yang cepat, Namun selain itu, dunia maya juga adalah alat kolonial untuk menjajah Serta memproduksi kegilaan  manusia modern.

Sebagai contoh, penulis perna temui secara langsung sekolompk mahasiswa yang sedang berteriak di depan layar Hpnya dengan keras, woee tembak, tembak, di lanjuti dengan kata-kata kotor. Ternyata mereka sedang asik bermain game.

Di lain kasus, tepat di Mall Panakukang Makassar.
Seorang bocah yang berumur sekitar empat tahun terpisah dengan ayahnya  di karenakan anak tersebut berjalan tak memperhatikan Ayahnya, matanya tertuju tak berkedip menatap layar HP.

Dari uraian kasus tersebut, secara tersirat memberi penjelasan kepada kita bahwa, sikap maupun cara pikir kita sedang dijajah secara perlahan oleh dunia maya. Tentu sangat berbahaya, sebab pikiran merupakan jantung peradaban.

Noam Chomsky salah seorang ahli linguistik Amerika serikat perna berkata bahwa, kita memandang dunia melalui media masa, dan media masa di kendalikan oleh dua kelompok besar, yaitu, kelompok kepentingan yang berkuasa dan kepentingan bisnis. Secara tidak sadar keputusan yang kita ambil sendiri merupakan petunjuk dari media masa.

 Khalil Gibran, salah satu penyair kondang kelahiran Libanon, perna menyatakan bahwa boleh kau merantai kakiku, belenggu tanganku dan jobloskan aku dalam penjara yang gelap, tapi jangan sekali-kali memperbudak pikiranku sebab pikiranku itu bebas.  Dari kalimat ini secara tersirat memberi penjelasan bahwa milikilah pikiran kita sendiri jangan biarkan ia di rampas oleh siapapun dan dengan cara apapun juga.


Untuk menekan laju pertumbuhan ancaman media yang datang sebagai penjajahan berjubah baru ini, maka, suntikan pendidikan dini kepada generasi suda seharusnya terdistribusi luas ke seluruh pelosok negeri.

Lembaga pemerintah, swasta, dan seluruh lapisan masyarakat harus seirama dalam melihat problem ini, sebab akan berdampak buruk dan memproduksi genarasi perusak, sehingga perubahan ke arah yang benar akan semakin sulit untuk di genggam.


Berdasarkan riset dari We Are Social, perusahaan media sosial asal Inggris, bersama Hootsuite menyebutkan dari total 268,2 juta penduduk Indonesia, 150 juta di antaranya menggunakan media sosial, ( Tribun Timur ).

  Dari sekian banyaknya pengguna media sosil secara tak langsung menjelaskan bahwa kita berada pada lingkaran potensi kemerosotan pikiran, dan potensi itu akan menjadi nyata, bila upaya mendonorkan pendidikan yang baik pada masyarakat tak juga di realisasikan.

Berbagai warna suku agama budaya dan latar belakang pendidikan yang berbeda semua dengan bebas menyajikan pikiran dan pendapat di ruang maya, dan pikiran itu tentu di pandang berbeda oleh kepala yang berbeda pula. Dari situlah percikan api konflik bisa tumbuh membesar dalam hitungan waktu yang begitu singkat, dan terjadilah perang saudara.

 Hal inilah yang paling di takuti oleh Ir. Soekarno. Sebagaimana perkataan beliau bahwa, perjuanganku lebih muda sebab saya hanya mengusir penjajah, sementara kamu lebih sulit sebab kau melawan bangsamu sendiri.

Selain itu, ada 6 kasus yang diungkap tim Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya selama kurun Mei 2016.
Keenam kasus itu adalah perkara hacking Instagram, pornografi, penipuan online, penghasutan via Facebook, pengancaman bom hingga prostitusi online. "Dari 6 kasus ini ada 5 orang anak di bawah umur sebagai pelaku dan 2 orang anak di bawah umur sebagai korban.

Salah satu contoh kasus yakni perkara hacking Instagram milik VB (20), anak dari seorang artis Ibu Kota yang dilakukan oleh seorang pelajar SMA yang masih berusia 17 tahun. Pelaku meretas akun Instagram VA, kemudian menawarkan akan mengembalikan akun korban seperti sedia kala dengan meminta imbalan sejumlah uang.

Gambaran peristiwa ini menampakan moral generasi perlahan membusuk akibat tidak mempunyai stok pengetahuan yang cukup untuk berbaur di dunia maya. Atau bisa di kata generasi kita sedang beternak kebodohan, dan para kolonial tentu menertawai kita.

Dari tragedi semacam ini menghantarkan penulis untuk kembali mengingat salah satu ucapan KH. Ahmad Dahlan, yang mana beliau berkata warisan terbaik seorang Ayah adalah menjadikan keluarganya sebagai teladan. Berangkat dari pernyataan ini, maka kita mengatakan bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang mampu menjadikan dirinya sebagai teladan bagi bangsa-bangsa yang lain, dan tentu bisa di capai hanya dengan pendidikan yang baik.

Salah satu nasehat dari Khalifa  Ali Bin Abi Thalib r.a yang masi terdengar di mimbar-mimbar cerama yaitu didiklah anakmu sesuai zamannya, sebab mereka tak hidup di jaman kalian. Numun realitas yang terjadi adalah kelalaian mendidik generasi sesuai zamanya, hingga banyak di ruang publik diisi oleh manusia-manusi tak berakal meskipun punya kepala, dan tak mampu menyadari bahwa kita sedang berada di dalam area penjajah.

Salah satu ilmuan termasyur yang namanya tak asing di dalam dunia akademik yaitu Aristotelas, ia perna berkata bahwa manusia adalah zoon  politicon yaitu makhluk sosial.

Namun kehadiran dunia maya mutakhir ini seakan mengubah manusia menjadi makhluk individual yang parmanen, sebab tak sedikit bisa kita jumpai orang-orang yang berkumpul di suatu ruang yang sama, namun hanya raganya, sebab jiwa mereka sedang sendiri menikmati aktivitas yang ada di dunia maya, dengan rasa individual yang tinggi maka kesombongan mulai perlahan datang dan hinggap di dalam benak kita, lalu secara perlahan menghantarkan kita ke dalam pintu kehancuran.
Ikbal Tehuayo

Ikbal Tehuayo

Penulis pinggiran
Tags: Opini Generasi Milenial Media Sosial
Baca Juga:
Komentar