AG-user

Ibadah Haji 2019

Mappatoppo: Antara Tradisi dan Syariat

Selasa, 13 Agustus 2019 14:57
Mappatoppo: Antara Tradisi dan Syariat
Labbaik

Ilustrasi peci haji

Alagraph.com, Arab Saudi - Alhamdulillah, rangkaian pelaksanaan rukun haji telah terlaksana, niat ihram di Miqat, wukuf di Arafah, tawaf ifaadhah dan tahallul, demikian pula melontar jamrah sebagai wajib haji. Jamaah pun resmi menyandang gelar Haji (bagi laki) dan Hajjah (bagi perempuan).

Sebagai tandanya, ada tradisi jamaah haji Bugis-Makassar di Tanah Suci,  yang dikenal dengan istilah "Mappatoppo".

Tradisi ini adalah simbol meletakkan peci atau sorban bagi jamaah laki-laki atau cipo-cipo kudung bagi jamaah perempuan. Hal tersebut, ibarat wisuda sarjana bagi para pelajar setelah menyelesaikan salah satu jenjang pendidikan.

Nah, yang diharapkan meletakkan peci atau kudung tersebut, adalah tokoh agama atau orang yang dituakan di antara mereka. Dengan harapan mendapatkan doa, agar hajinya mabrur, dapat berkah dari Allah Swt, dan dapat istiqaamah dalam aktivitas keseharian.

Pelaksanaan Mappatoppo, bisa dilaksanakan di tenda Mina, seperti yang dilakukan, Senin (12 /8/19) bertepatan 11 Zulhijjah 1440 H, atau di hotel, penginapan di Mekkah, setelah kembali dari Mina.

Bagaimana  pandangan syariat (Islam) menyikapinya? Bahwa ajaran  Islam, juga tidak bisa dipungkiri sarat dengan berbagai simbol. Ibadah haji, misalnya. Pakaian ihram sebagai simbol kain kafan, tawaf sebagai simbol aktivitas manusia di dunia ini, yang tidak boleh lepas dan lalai dari ingatan, zikir kepada Allah Swt, ada ka'bah sebagai simbol persatuan. Sa'i sebagai simbol kerja keras disertai niat yang suci, serta simbol kasih sayang seorang ibu, tahallul, sebagai simbol hal-hal yang dihalalkan Allah Swt, melontar jamrah, simbol perlawanan kepada kejahatan yang disimbolkan sebagai syaitan.

Rasululah Saw mencontohkan kepada umatnya, bahwa berdoa kepada Allah Swt dapat melalui bahasa verbal, dengan kata kata, seperti doa sapu jagat, doa sebelum makan, doa keluar rumah dan lain sebagainya.

Ada juga, doa dalam bentuk simbol, dinamakan "Tafaaul" istilah orang Bugis "Sennung-sennungeng". Tatkala musim kemarau, Rasulullah Saw, menyerukan umatnya untuk shalat Istisqa, shalat dan doa minta diturunkan hujan. Pelaksanaanya, dua rakaat, diawali khutbah, kemudian shalat dua rakaat seperti shalat Jumat. Ketika akan mengakhiri khutbahnya, Rasulullah Saw membalik surbannya, kemudian menghadap kiblat, berdoa seraya meninggikan tangannya.

Ulama memberikan penjelasan bahwa salah satu  hikmahnya, Rasulullah Saw berdoa dengan simbol. Maknanya, Yaa Allah, balikkan kondisi ini, dari kemarau menjadi hujan, sama dengan simbol, Rasulullah Saw membalik surbannya. Inilah, contoh Tafaaul Rasulullah saw, berdoa dengan simbol.

Hal yang sama, beberapa  kegiatan masyarakat Bugis-Makassar, mengandung tafaaul, seperti, Mappacci dalam perkawinan, masuk rumah baru, aqiqahan dan masih banyak lagi yang lainnya.

Realitanya, di kalangan masyarakat, pakai cipo-cipo sebagai simbol hajjah, namun masih kelihatan telinga dan lehernya, itu kan naif, karena sudah hajjah, masih berpakaian yang kelihatan auratnya.

Alangkah elok dan indahnya, apabila diparalelkan antara budaya dan agama atau antara tradisi dan hakiki. Sebagai Hajjah yang optimal, dalam berpakaian, ada simbol tradisi dan tetap menutup aurat. Busana muslimah yang elegan dan tetap memperhatikan kearifan lokal.

Dipesankan kepada jemaah haji, baik laki dan terkhusus perempuan, para hajjah, agar jangan hanya mengutamakan simbol haji semata, tapi yang esensi dan hakiki sebenarnya, dapat diimplementasikan dalam akhlakul karimah.

Orang yang telah menunaikan haji, berarti menduduki kelas lima persfektif lima rukun Islam. Yang paling penting adalah berakhlakul karimah dalam segala aspek, ibadah ritual dan sosialnya meningkat, serta istiqaamah menutup aurat pasca haji. Demi tergapainya harapan kemabruran haji.

Dr. H. A. Muhammad Akmal, S. Ag, MHI

Dr. H. A. Muhammad Akmal, S. Ag, MHI

Dosen UIN Alauddin Makassar DPK UIM
Tags: Ibadah Haji 2019 Mappatoppo Peci Haji Arafah
Baca Juga:
Komentar