AG-user

Memahami Konsep At-tarku

Jumat, 5 Juni 2020 20:21
Memahami Konsep At-tarku
Hasanuddin/PM

Salat Jumat di Masjid Al Markaz Al Islami Jend Jusuf Makassar, 5 Juni 2020.

Alagraph.com, Mesir - Tidak semua yang tidak dilakukan Nabi Muhammad ﷺ menjadi tidak boleh kita lakukan. Hal ini disebut konsep ُالتَّرْك /at-tarku. At-tarku secara bahasa berarti meninggalkan/tidak melakukan. Maksudnya, hal-hal yang ditinggalkan dan tidak dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

Ulama sepakat, at-tarku pada dasarnya tidak menunjukkan hukum syar'i. At-tarku bukanlah salah satu metode yang bisa digunakan secara terpisah dalam perumusan hukum (istidlâl). Akan tetapi metode yang bisa digunakan untuk menetapkan hukum syar'i, baik wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram adalah datang dari nas al-Quran, as-Sunnah, Ijma' dan qiyas.

Meski masih diperselisihkan, masih ada metode lain selain keempat hal di atas. Namun tidak ada satu pun dari metode tersebut yang berupa at-tarku.

Syaikh Al-Ghumary pernah bersyair:

الترك ليس بحجة في شرعنا ** لا يقتضي منعا ولا إيجابا

At-tarku (segala sesuatu yang ditinggalkan Rasulullah) bukanlah hujjah dalam syariat kita. Ia tidak bermakna larangan, tidak pula mewajibkan.

فمن ابتغى حظرا بترك نبينا ** ورآه حكما صادقا وصوابا

Barang siapa yang mencari keharaman dengan (alasan) Rasulullah meninggalkan(nya), lalu ia meyakini sebagai hukum yang terpercaya dan benar,

قد ضل عن نهج الأدلة كلها ** بل أخطأ الحكم الصحيح وخابا

maka ia telah sesat dari prosedur semua hukum. Bahkan ia keliru dalam membuat hukum yang sahih, dan ia telah merugi.

لا حظر يمكن إلا إن نهي أتى ** متوعدا لمخالفيه عذابا

Tak ada keharaman kecuali jika ada larangan yang datang, seraya mengancam pelanggarnya dengan siksaan.

أو ذم فعل مؤذن بعقوبة ** أو لفظ تحريم يواكب عابا

Atau mencela perbuatan orang yang melegalkannya dengan hukuman. Atau (datang dengan) lafaz tahrîm (pengharaman) yang disertai dengan cacian.--

Sehingga, orang yang abai dan tak memahami konsep at-tarku, biasanya menjadi pintu menuju tindak pembid'ahan. Klaim dan menuduh bid'ah sana-sini. Hanya karena hal itu tidak dilakukan Rasulullah ﷺ.

Orang seperti ini, berangkat dari logika sederhana: "Tiap perkara baru (tidak pernah dilakukan Rasul) adalah bid'ah, dan tiap bid'ah adalah sesat", al-hadits. Biasanya akan ada tambahan: dan tiap yang sesat tempatnya neraka. Jadi, bid'ah sama dengan (=) neraka.

Tentu saja, ada bid'ah yang benar-benar sesat dan terlarang. Namun untuk membahasnya secara detail, bukan di sini tempatnya.

Menengadah ketika berdoa, bersalaman selepas salat, adalah di antara perbuatan yang tertuduh bid'ah oleh orang yang gagal paham dengan konsep at-tarku.

Ada aneka dalil, bahwa para sahabat tidak memahami dalam tarku-nya Rasulullah ﷺ terdapat keharaman, bahkan makruh pun tidak. Demikian pemahaman para ulama sepanjang masa.

Rasulullah ﷺ tidak berkhutbah di atas mimbar, melainkan di atas pelepah kurma. Namun sahabat tidak menyimpulkan, bahwa berkhutbah di atas mimbar adalah bid'ah. Oleh sebab itu, mereka lantas membuatkan mimbar untuk Rasulullah ﷺ berkhutbah.

Seperti halnya Bilal melakukan salat sunnah setelah wudhu, yang tidak pernah dilakukan Rasulullah ﷺ. Baru setelah itu, Bilal mengabarkan dan berdialog dengan Rasulullah ﷺ. Akhirnya, salat sunnah ini menjadi kesunnahan setelah mendapat pengakuan dari Rasulullah ﷺ.

** Sebagaimana tidak semua yang dilakukan Nabi Muhammad ﷺ menjadi boleh kita lakukan. Ada wilayah yang menjadi kekhususan beliau.

Dalam konteks Rasulullah ﷺ, kekhususan beliau biasa disebut الخصائص النبوية /al-khashâish an-nabawiyyah; yaitu suatu kekhususan yang berlaku/diberikan, karena Muhammad ﷺ adalah seorang nabi.

Khashâish/kekhususan Rasulullah ﷺ terbagi tiga:

[1]. Ditinjau dari, bahwa kekhususan itu ada sebab keberadaan Rasulullah ﷺ itu sendiri.

Aspek ini terbagi tiga:

Pertama. Kekhususan yang berlaku untuk Rasulullah ﷺ dan umatnya (keduanya berkongsi), namun tidak diberikan kepada nabi-nabi lain beserta kaumnya.

Contoh, hadis Rasulullah ﷺ:

"Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada orang sebelumku; (1)aku ditolong melawan musuhku dengan ketakutan mereka sejauh satu bulan perjalanan. (2)Dijadikan bumi untukku sebagai tempat sujud dan suci. Maka dimana saja salah seorang dari umatku mendapati waktu salat hendaklah ia salat. (3)Dihalalkan untukku harta rampasan perang yang tidak pernah dihalalkan untuk orang sebelumku. (4)Aku diberikan (hak) syafa'at, dan (5)para nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia."

Juga seperti, bolehnya hukum diyat bagi pembunuhan sengaja, dan hal tersebut tidak dibolehkan bagi umat sebelumnya.

Kedua. Kekhususan yang berlaku bagi Rasulullah ﷺ, juga bagi nabi-nabi lainnya. Namun tidak berlaku bagi yang bukan nabi.

Seperti adanya mukjizat, mendapat 'ishmah; terlindungi dari perbuatan maksiat, bercakap dengan Allah Swt, mendapat wahyu dan mereka tidak mewariskan harta.

Ketiga. Kekhususan yang betul-betul hanya untuk Rasulullah ﷺ. Tidak berlaku bagi yang lain, nabi ataupun bukan nabi.

Seperti adanya Rasulullah ﷺ sebagai penutup para nabi, penghulu para rasul, diutus bagi sekalian alam; bangsa jin maupun manusia, syafaatnya yang agung pada hari penghisaban.

[2]. Ditinjau dari, waktu berlakunya kekhususan tersebut.

Aspek ini terbagi dua:

Pertama. Ada kekhususan Rasulullah ﷺ yang hanya terjadi ketika di dunia. Seperti, beliau mengalami peristiwa Isra'. Juga, bolehnya beliau menikahi lebih dari empat wanita.

Kedua. Berlaku ketika di akhirat kelak. Seperti, beliau yang pertama kali dibangkitkan, pemberi syafaat pertama, yang pertama mengetuk pintu surga, nabi dengan pengikut terbanyak, di tangannya lah panji "al-hamd", dan yang diberi telaga Al-Kautsar.

Pembagian lain dari aspek ini:

Ada kekhususan yang bersifat terus-menerus. Seperti contoh-contoh sebelumnya.

Ada pula yang bersifat temporer/sementara. Seperti hadis: "Ketahuilah tanah Makkah tidaklah halal bagi seorangpun baik sebelumku atau sesudahku, ketahuilah bahwa sesungguhnya ia pernah menjadi halal buatku "sesaat" di suatu hari."

[3]. Ditinjau dari, apa yang dikandung kekhususan tersebut.

Aspek ini terbagi dua:

Pertama. Kekhususan yang tidak mengandung hukum syar'i. Seperti Rasulullah ﷺ memiliki mukjizat, diberi wahyu, dan ditolong dengan ketakutan musuhnya sejauh satu bulan perjalanan.

Kedua. Kekhususan yang mengandung hukum syar'i. Ada dua:

Ada hukum syar'i itu berlaku sebagai "penghormatan" kepada Rasulullah ﷺ. Seperti haram menikahi jandanya, istrinya wajib menutup seluruh tubuh, haram mengambil zakat dari ahlul bait, beliau tidak mewarisi, membohonginya secara sengaja termasuk dosa besar dan haram meninggikan suara melebihi suaranya.

Ada juga, hukum syar'i itu berlaku untuk perbuatan Rasulullah ﷺ. Seperti beliau wajib qiyamullail, haram menerima zakat dan sedekah, dan boleh menikahi lebih dari empat wanita. 

** Ada hal yang wajib bagi beliau, sunnah bagi kita.

Seperti wajibnya salat dhuha, tahajjud dan witir bagi Rasulullah ﷺ. Namun hanya sunnah bagi kita.

** Ada yang boleh bagi beliau, haram bagi kita.

Seperti beliau boleh menyambung puasa tanpa berbuka (wishal) dan boleh menikahi lebih dari empat wanita. Sedang keduanya haram bagi kita.

** Ada yang haram bagi beliau, boleh bagi kita.

Seperti, haram bagi beliau meninggalkan qiyamullail dan haram menerima zakat juga sedekah. Sedang bagi kita, boleh saja tidak qiyamullail dan boleh saja menerima zakat ataupun sedekah.

Sebagai penutup, mengapa ada pengkhususan bagi Rasulullah ﷺ?

Di antara hikmahnya, meski Rasulullah ﷺ sama dengan yang lainnya sebagai manusia biasa, namun Rasulullah ﷺ berbeda karena mengemban amanah risalah. Jadi alasan "risalah" inilah sehingga Rasulullah ﷺ mendapat perlakuan khusus dari Allah Swt.

Mengapa pengkhususan Rasulullah ﷺ berbeda dibanding nabi-nabi lain?

Sebab risalah yang dibawa Rasulullah ﷺ lebih penting. Dalam arti, ditinjau dari segi sasaran dakwahnya. Nabi terdahulu diutus khusus untuk kaumnya. Sedang Rasulullah ﷺ diutus untuk sekalian alam. Bukan hanya untuk seluruh manusia, bahkan juga untuk golongan jin.

Selain itu, risalah nabi terdahulu berakhir ketika nabi yang bersangkutan wafat. Sedang risalah Rasulullah ﷺ bersifat abadi, sampai hari kiamat. Demikian, wallahu a'lam.

M. Rifqi Ahrar Mudatsir

M. Rifqi Ahrar Mudatsir

Mahasiswa Program Magister Ilmu Tafsir Universitas Al-Azhar Mesir
Tags: M Rifqi Ahrar Mudatsir Mesir
Komentar