AG-user

HUT ke-74 RI

Memaknai Nilai Kemerdekaan

Senin, 19 Agustus 2019 23:43
Memaknai Nilai Kemerdekaan
AG-User (Ikbal Tehuayo)

Pengibaran bendera merah putih dalam rangka HUT RI

Teringat kata Bung Karno dalam salah satu pidatonya, mengumumkan kepada seluruh rakyat bahwa jangan sekali-kali kita melupakan Jas Merah (sejarah ). Sebab dengan sejarah kita mengenal berbagai sosok tangguh yang begitu setia memperjuangkan kemerdekaan.  Tak sedikit dari mereka yang meninggal tanpa menyaksikan proklamasi pertama didengungkan, namun di akhir hayatnya selalu mengucapkan  Merdeka, merdeka dan merdeka.

Sejak tahun 1945 hingga 2019  bangsa ini telah memasuki  usia 74 tahun, yang berarti telah berada pada usia bijaksana

Di usia ini, sepatutnya kita melihat kemerdekaan bukan hanya sebagai serangkain acara pengibaran bendera dan nyanyian lagu kebangsaan, tapi berupaya untuk merasakan derita yang dialami oleh  pejuang kita demi memperoleh kemerdekaan, sebab dengan itulah kita senantiasa terdorong untuk mengisi kemerdekaan sesuai dengan harapan dan cita-cita para pejuang dan pendiri bangsa ini.

 Kamus besar bahasa indonesia memberitahu kepada kita bahwa merdeka adalah bebas dari perhambaan dan penjajahan.

Bebas artinya tidak ditindas, tidak terikat, berdiri di kaki sendiri, serta berhak menentukan nasibnya sendiri.

Negeri ini di perjuangkan dengan darah pengorbanan dan di warisi untuk anak bangsa sendiri, bukan untuk bangsa dan negara lain. Bila ada yang mencoba merampasnya maka lawanlah dan cabut nyawanya.

Panggalan kata tersebut menggambarkan bahwa kemerdekaan yang telah di raih oleh pejuang kita harus dihargai sepenuh hati dan dibuktikan dengan tindakan nyata, bukan sekedar berbasa-basi.

Sebab sifat kepura-puraan dalam mengisi kemerdekaan merupakan representasi dari tidak adanya rasa cinta terhadap bangsa dan negaranya sendiri, dan tentu dari sinilah sifat parasit akan tumbuh dalam jiwa sehingga negara di jadikan sebagai tempat untuk memenuhi rasa tamak yang bersarang di dalam diri.

Sunggu sangat memprihatinkan, 74 tahun kita telah merdeka, namun tak sedikit dari orang-orang yang bekerja untuk negara adalah pembohong-pembohong bertitel. Hal ini bisa kita lihat di semua lembaga negara perna tersentuh oleh tindakan korupsi.

Dari gambaran tersebut menjelaskan bahwa generasi kita tak mewarisi sifat mulia para pendiri bangsa, yang berjuang tanpa mengharapkan imbalan apapun, di hati mereka hanya ada satu niat besar, yaitu membuat seluruh rakyat menjadi sejahtera, bukan merampas uang rakyat.

Kita bisa mengambil hikma dari kehidupan KH Agus Salim dalam memperjuangkan negeri ini.

Kiyai yang di juluki The Grand Old Man ( Si Pak Tua Besar ) itu selalu setia dengan sifat kesederhanaan dan kesyukuran terhadap apa yang telah ia miliki, dengan sifat inilah beliau mampu memperjuangkan kemerdekaan dengan tidak mengharapkan apapun dari negara.

Berkat jasa beliau indonesia mendapatkan pengakuan kemerdekaan dari Mesir, tentu untuk melakukan hal yang demikian membutuhkan kecerdasan intelektual yang tajam. Bukan omong kosong belaka.

Jikalau kita hanya mempelajari sifat dan keteguhan Agus Salim tanpa meneruskan api perjuangan yang bernyala-nyala dan berkobar dalam jiwanya, maka kita pun hanya mewariskan abu saja, mewariskan barang yang mati, mewariskan barang yang tiada harga.

Sifat tangguh berani dan cerdas yang di miliki oleh para pejuang kini sulit ditemui dalam diri anak bangsa belakangan ini, Sehingga generasi yang mengisi kemerdekaan adalah generasi banyak cengeng, kerja ons makannya kilo.
Lalu prestasi secuil di besar-besarkan lewat media.

Dalam menyambut Hut RI ke 74 ini di teras-teras media ramai akan pemberitaan tentang kompetisi dan seleksi agar bisa menjadi pasukan pembawa bendara. Namun bila kita telusuri lebih jauh, maka di benak generasi ini menjadikan momen tersebut sebagai jembatan penghubung mencari kerja. Di kepala mereka setelah lulus menjadi pasukan pembawa bendera dia akan mudah untuk mencari kerja.

Nilai edukasi untuk memaknai kemerdekaan pun menjadi hilang,  sebab sejak dalam pikiran kita mengisi kemerdekaan bukan untuk menjiwai kemerdekaan dengan nila-nilai perjuangan yang ada di dalamnya, melainkan hanya untuk kepentingan pribadi.


Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.
(Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, 1997).

Berangkat dari pernyataan tersebut, lalu melihat fakta hari ini, maka kita akan sampai pada kesimpulan yang menunjukan bahwa bangsa kita sedang di huni oleh banyak jiwa pembohong.

Perubahan tidak akan mengarah kepada kebenaran bila kesalahan berfikir masi menjebak  kita.
(Jalaludin Rahmat, Rekayasa sosial).

Bila kebuntutan pikiran dan tak adanya keadilan ini terus dilestari, maka kemerdekaan indonesia hanya sebatas nyanyian lagu kebangsaan, dan tak akan perna sampai ke dermaga kesejahteraan.
Ikbal Tehuayo

Ikbal Tehuayo

Penulis pinggiran
Tags: 17 Agustus HUT ke-74 RI
Baca Juga:
Komentar