Mengapa Adik CT Tolak Laporan Keuangan Garuda?

Kamis, 25 April 2019 08:57
Mengapa Adik CT Tolak Laporan Keuangan Garuda?
Ist

Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia

Alagraph.com- PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengumumkan laporan keuangan perusahaan 2018 yang digelar Rabu (24/4/2019).

Dua komisaris perusahaan yaitu Chairal Tanjung yang merupakan adik Chairul Tanjung (CT) dan Dony Oskaria menolak laporan keuangan tersebut sebagaimana dilansir Tempo.co.

Chairal Tanjung dan Dony Oskaria adalah perwakilan PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd yang menguasai 28,08 persen saham GIAA. 

Penolakan keduanya dibuktikan dengan surat keberatan yang dilayangkan terhadap perusahaan pada 2 April 2019.

“Merujuk kepada Laporan Tahunan Perseroan Tahun Buku 2018 yang diajukan kepada kami,……, sesuai dengan Pasal 18 ayat 6 Anggaran Dasar Perseroan, bersama ini kami bersikap untuk tidak menandatangani laporan tahunan tersebut,” tulis keduanya dalam surat yang tersebar di kalangan awak media.

Keterangan surat itu menyebutkan bahwa laporan keuangan Garuda Indonesia bertentangan dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Negara Nomor 23 lantaran telah mencatatkan pendapatan yang masih berbentuk piutang.

Piutang yang dimaksud berasal dari perjanjian kerja sama antara PT Garuda Indonesia Tbk dan PT Mahata Aero Teknologi serta PT Citilink Indonesia.

Kerja sama yang diteken pada 31 Oktober 2018 ini mencatatkan pendapatan yang masih berbentuk piutang sebesar USD 239.940.000 dari Mahata. Dari jumlah itu, USD 28 juta di antaranya merupakan bagi hasil yang seharusnya dibayarkan Mahata untuk PT Sriwijaya Air.

Dalam surat ini disebutkan, dua komisaris menolak laporan keuangan Garuda Indonesia karena akan menyesatkan publik. Pengakuan pendapatan ini juga dianggap dapat menimbulkan beban cash flow perseroan.

Saat dikonfirmasi Tempo.co, Chairal mengatakan surat tersebut hanya berupa pendapat. 

“Kan hanya masalah pendapat. Kami enggak sependapat dengan (sistem) akuntansi yang diterapkan,” ucapnya seusai rapat pemegang saham tahunan (RUPST) Garuda Indonesia di Hotel Pullman, Jakarta.

Sementara itu, Deputi Jasa Keuangan, Survei, dan Konsultasi Kementerian BUMN Gatot Trihargo mengatakan perseroan tak akan mengadakan revisi laporan keuangan. 

“Enggak (akan direvisi),” ucapnya.

Garuda Indonesia dalam sebuah surat kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan transaksi perjanjian dengan Mahata dan Citilink telah kelar diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Independen Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang dan Rekan BDO.

“Sebagaimana memberikan pendapat wajar atas semua hal material, yang telah sesuai dengan Laporan Auditor Independen."

Surat kepada OJK ini dikeluarkan pada 4 April 2019 dan ditandatangani oleh Direktur Human Capital Garuda Indonesia Heri Akhyar.

Pada kuartal I 2019, Garuda Indonesia mencatatkan kinerja positif dengan membukukan laba bersih sebesar USD 19,7 juta. 

Laba bersih Garuda melesat dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu yang mencatatkan kerugian USD 64,3 juta. Adapun sepanjang 2018, Garuda mencatatkan keuntungan USD 809.846 atau setara Rp 11,5 miliar. (*)

Editor: Sriwidiah Rosalina Bst
Sumber: Tempo.co

Tags: Garuda Indonesia Chairal Tanjung
Baca Juga:
Komentar