AG-user

Mengunjungi Dusun Cindakko Pelosok Maros

Jumat, 3 Januari 2020 22:00
Mengunjungi Dusun Cindakko Pelosok Maros
AG-User (Renita Pausi Ardila)

Potret Dusun Cindakko dari atas SD 246 Bonto-Bonto. Foto: Mulyawan Galib

“Selamat Datang di Cindakko” tertulis rapi di papan bercat hijau. Di belakangnya berdiri pohon-pohon pinus daunnya melambai pelan digerakkan angin. Di kejauhan mulai tampak rumah warga yang berada di tepi gunung.

Anak-anak bermunculan saat kami mulai masuk perkampungan pertama di Dusun Cindakko. Parang Luara warga menyebutnya. Pendamping Ochang dan Rahmat dari Wanua Panrita memperkenalkan kami kepada anak-anak itu.

“Gurumu ini semua, datang sekolah besok nah,” kata Kak Ochang sambil menunjuk kearah saya, Fajar, Ica, Yuta, dan Denka. Relawan yang akan mengajar di SD 246 Bonto-Bonto Dusun Cindakko, Desa Bontosomba, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulsel. 

Di tengah asyik berbincang dengan adik-adik sambil melapas lelah, Rahmat mengingatkan kami, “kak perjalanan kita masih jauh malam juga semakin dekat. Sebaiknya kita bergegas”.

Ternyata tulisan “Selamat Datang di Cindakko” itu belum menandakan kami telah sampai di lokasi mengajar. Kami masih harus melewati Parang Luara terlebih dahulu. Kemudian menyisir jalan setapak di antara sawah, hutan, dan tanjakan bebatuan yang curam.

Medan jalan membuat kami harus berjalan kaki dari Dusun Baru, Desa Bontomanurung. Sehingga akan sulit jika menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua, itupun hanya motor yang cocok dengan medan ini seperti motor trail. Sampai saat ini juga belum ada mobil yang bisa masuk ke sana.

Jarak antardusun ataupun RT (Rukun Tetangga) di pelosok dan perkotaan memang sangat berbeda. Di Maros Kota misalnya jarak antardusun hanya dipisahkan oleh tapal batas yang terbuat dari balutan semen.

Berbeda di Desa Bontosomba dengan Kabupaten yang sama jarak antar-Dusun Bara, Bonto-bonto, dan Cindakko harus melewati hutan dan gunung.

Kami tiba di rumah induk semang, rumah Pak Halim dan Ibu Becce, sekitar pukul tujuh malam waktu setempat. Rahmat langsung mengarahkan kami menyiapkan makanan untuk santap malam kemudian beristirahat.

Saat memasak, itu kali pertama kami menggunakan kulit pohon pinus sebagai pengganti bahan bakar untuk menyalakan api di tungku. Di sana semua serba susah seperti bahan bakar karena jarak yang harus dilalui warga.

Di malam pertama itu saya belum bisa melihat rupa perkampungan Dusun Cindakko. Sebab di sana tidak ada penerangan dari listrik. Hanya menggunakan tenaga surya itupun hanya 2 atau 3 rumah yang memilikinya.

Senin, 21 Oktober 2019 hari pertama kami relawan angkatan 9 mengajar di sekolah dasar dengan bangunan sederhana terbuat dari papan.

Pertemuan pertama kami dimulai dengan upacara bendera seperti yang biasa dilakukan sekolah-sekolah lain. Bedanya adik-adik harus melakukan upacara di halaman rumah warga. Tidak ada halaman yang cukup untuk menampung 95 siswa di sekolah yang hanya memiliki empat kelas itu, karena lokasinya juga berada di bukit.

Dari depan kelas, dusun yang diketuai oleh Pak Sulaiman ini sangat cocok untuk menikmati pemandangan alam. Gunung-gunung berjejer mengelilingi sekolah, di bawah tampak rumah warga, sawah, dan sungai serta pepohonan hijau menyelimuti gunung-gunung itu. “Aku tidak pernah melihat ini di perkotaan,” cetus Kak Ica sambil memotret pemandangan.

Terlihat jelas dari atas, rumah warga saling berjauhan. Seperti RT 02, Kacoci namanya yang berada di ketiggian hampir 900 mdpl dari permukaan laut. Lebih tinggi dari RT 01 tempat kami tinggal. Hanya satu rumah panggung berdinding papan yang kelihatan. Itupun tampak kecil karena jauhnya jarak ke sana.

Meskipun jarak setiap rumah berjauhan interaksi dan hubungan sosial mereka masih tetap terjaga. Begitupun kebiasaan gotong royong di sana yang sangat jarang didapati di kota. Seperti saat pengerjaan WC di rumah Pak Halim, tidak hanya bapak-bapak di sekitar sana saja yang datang membantu. Daeng Ramalang warga dari Kacoci pun datang.

Mayoritas masyarakat Cindakko adalah suku Makassar dengan bahasa sehari-hari bahasa konjo. Tidak banyak diantara mereka yang fasih menggunakan bahasa indonesia. Pun siswa-siswi SD masih menggunakan bahasa konjo saat proses belajar mengajar berlangsung.


Seminggu di sana menjalankan tugas sebagai relawan mengajar, saya tidak hanya menjalankan tugas sebagai guru. Juga belajar tentang kearifan lokal dan berbaur bersama masyarakat. Serta menikmati menit-menit berharga dalam hidup tanpa cuitan gosip murahan dari sosial media. Tertawa dan ceria tanpa gadget dan menghirup segarnya udara tanpa polusi. Alam dan kesederhanaan warga di sana memberikan aku potret perbandingan dengan kehidupan di kota. Membuatku ingin kembali lagi berkunjung dan menyapa mereka satu per satu. (*)

 

Renita Pausi Ardila

Renita Pausi Ardila

Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Hasanuddin
Tags: Cindakko Maros Wanua Panrita
Komentar