AG-user

AG-User

"Metode Diskusi Makalah" Tradisi Pembodohan Gundul Pacul

Jumat, 12 Juli 2019 05:31
AG-User (Ridwan)

Tradisi Pembodohan Gundul Pacul

Tidak lama lagi pasukan gundul pacul bersama ratu polosnya memasuki gerbang kampus. Yah, jebolan sekolah menengah atas dan kejuruan akan mewarnai ruang-ruang perkuliahan. Kita akan melihat ragam wajah dengan karakter yang berbeda-beda, ada yang periang karena mungkin bernostalgia bersama teman seangkatan di kampus yang sama, hingga sosok penyendiri karena mungkin belum bisa move-on dari masakan ibu di kampung halaman. Yang jelas, ini akan menghibur para senior khususnya mereka yang terlibat dalam kepengurusan organisasi intra kampus, mulai dari mengerjain adik-adik MABA (Mahasiswa Baru) hingga fenomena tukaran nomor whatsap dengan Nona Manis yang baru memasuki dunia kampus.

Terlepas dari fenomena para gundul pacul dan ratu polos, ada hal menarik untuk didiskusikan mengenai hak-hak mereka setelah mendapatkan pengakuan sebagai mahasiswa dari kampus bersangkutan yakni perjumpaan mahasiswa baru dengan tugas-tugas kuliah. BOOOOOM..!!!

Harus diakui, masih ada saja beberapa dosen menggunakan metode diskusi dalam bentuk presentasi makalah bagi mahasiswa baru yang sejatinya tidak layak untuk diterapkan dan menjadi usang karena menjadi tradisi tiap tahunnya. Paling tidak sejak penulis memasuki dunia kampus pada Tahun 2011, tradisi ini belum hilang. Apa yang salah? 

Mungkin saja pendapat ini salah !!!

Sangat tidak tepat bila mahasiswa baru (S1) dibebankan tugas kuliah membuat makalah. Mengingat makalah itu sendiri ada ketentuannya, ada aturan tersendiri sebagaimana termaktub dalam pedoman penulisan karya tulis ilmiah setiap universitas atau perguruan tinggi mulai dari ketentuan-ketentuan penulisan makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan jurnal; lengkap dengan tekhnik penulisan, jumlah minimum halaman, jumlah minimum literatur yang ingin dijadikan referensi, tekhnik penulisan footnote serta analisis kutipan dan banyak ketentuan lainnya yang mana mahasiswa baru belum sedikitpun menyentuh  kulit motodologi ini. Kalau tidak salah mata kuliah metodologi ini baru akan dipelajari ketika memasuki semester 4 atau 5.

Lebih tidak tepat apabila mahasiswa baru dibebankan tugas presentasi makalah. Mahasiswa baru itu modalnya apa? Ini jelas rancuh. Mereka baru lulus dari bangku sekolah. Ibarat embrio, mereka masih dalam tahap permulaan, baru ingin menyesuaikan diri dari kehidupan pesisir atau kehidupan hulu pedesaan menuju perkotaan, dari kebiasaan mengkonsumsi makanan rumah menuju kebiasaan jajan di warteg. Siapa yang bisa menjamin setiap mereka atau (minimal) sebagian dari mereka mampu mengolah kata menjadi kalimat atau paling sederhana mengoperasikan komputer?Jangan gegabah. Ibarat telur yang dipaksa menetas tanpa dierami induknya... Prematur dong !!!

Makanya, Jangan heran dengan banyaknya mahasiswa baru yang memilih bolos dalam perkuliahan saat tiba giliran mereka presentasi makalah. Sejatinya mahasiswa baru memiliki daya disiplin terhadap waktu yang tinggi mengingat sedang panas-panasnya keingintahuan mereka, namun karena beban tugas makalah dan presentasi menjadikan mereka tidak percaya diri untuk tampil di hadapan teman-teman mahasiswa atau lebih dari itu terkait bagaimana mempertanggungjawabkan tugas makalah di hadapan dosen.

Mereka tidak percaya diri bukan karena tidak mau tahu, atau betul-betul tidak tahu pun setelah diajarkan, melainkan karena memang hal ini tidak dan belum sama sekali diajarkan. Mengamalkan tanpa mempelajari? "Kalang Kabut".!!

Mungkin saja di antara mahasiswa baru ada satu atau beberapa mahasiswa yang bisa mengoperasikan microsoft word, tapi tidak ada jaminan mereka menguasai ketentuan-ketentuan yang berlaku. Akibatnya, mereka menjadi pencuri awwam dengan mengamalkan tradisi copy-paste (Bukan coffee Lattee).

Ini bukan tentang siapa "MAHASISWA" itu, bersama kedudukannya sebagai sosok yang memangku ke-Maha-an-nya. Karena slogan ini angkuh sebagai prinsip dan rendahan sebagai nilai. Ini tentang "siapa yang harus mengerjakan apa" atau "apa yang harus dikerjakan oleh siapa" karena ada hal lain yang kita ketahui namun tak mau tahu terkait ketidaktepatan tugas-tugas kuliah semacam ini bagi mereka yang masih pemula.

Catatan:

"Sungguh pilu saat kembali ke rumah, melihat adik-adik mahasiswa baru sedang menundukkan kepalanya di hadapan laptop sambil berupaya menyelesaikan tugas membuat makalah yang tidak pernah dijarkan kepada mereka. Lebih pilu lagi ketika mereka meminta bantuan untuk dibuatkan makalah agar terlihat brillian di mata dosen-dosennya".

Memprihatinkan, luar binasa kawan.

Penulis: Saharuddin, S.Pd.I., M.Pd

Ridwan

Ridwan

Reporter - Literatur
Komentar