AG-user

AG-User

Mitologi Hijrah

Selasa, 11 September 2018 07:31
Mitologi Hijrah
AG-User (Abd Muid N)

http://jabar.tribunnews.com

Dr. Abd. Muid N., MA.

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dan Kontributor www.nuansaislam.com

 

Agar tidak terjatuh ke dalam jurang tuduhan penistaan, kata ‘mitologi’ dalam judul artikel ini harus dijelaskan terlebih dahulu.

Sebagai makhluk bernaluri sosial, manusia membentuk perkawanan yang dibangun lewat blusukan, berjabat tangan, bercengkrama, ngopi-ngopi, atau berpelukan. Perkawanan itu kemudian melahirkan keakraban yang lambat laun melahirkan hirarki kepemimpinan. Pemimpin yang lahir dalam proses seperti itu adalah pemimpin yang tidak harus paling kuat, tapi lebih utama adalah yang paling dirasa akrab dan dipercaya.

Namun, proses kepemimpinan seperti di atas hanya mungkin terjadi dalam keanggotaan kelompok yang berjumlah maksimal 150 orang. Untuk jumlah yang lebih dari 150, dibutuhkan lebih dari sekadar jabat tangan dan ngopi-ngopi untuk keakraban. Di situlah dibutuhkan semacam imajinasi bersama. Imajinasi bersama itulah yang disebut mitos.

Apakah selembar uang merah 100.000 rupiah bergambar Soekarno-Hatta di tangan kita benar-benar bernilai 100.000 rupiah atau kesepakatan kita atas imajinasi bersama lah yang membuat uang itu bernilai demikian? Karena tidak ada hubungan antara nilai 100.000 rupiah dengan kertas merah betuliskan 100.000 rupiah di atasnya ditambah gambar Soekarno-Hatta, maka sesungguhnya hubungan itu adalah mitos. Namun mitos itulah yang mengikat ratusan juta orang Indonesia hingga kehidupan berjalan lancar sebagaimana kita lihat. Karena itu pula, mitos bukan sesuatu yang hina.

Pada pemaknaan seperti di atas lah kata ‘mitos’ berkaitan dengan kata ‘hijrah’. Hijrah yang pada awalnya hanyalah perpindahan fisik Rasulullah SAW dengan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah, oleh Rasulullah SAW diberikan makna-makna yang jauh melampaui makna awalnya. Kata ‘hijrah’ berarti ‘pemutusan hubungan’. Orang-orang yang tergabung dalam proyek hijrah berarti memutuskan hubungan dengan ikatan kesukuan, ras, agama, golongan, dan sebagainya lalu menerima ikatan yang transenden, yaitu dengan Allah SWT yang bertujuan untuk membangun sebuah dunia penuh harmoni di mana anak-anak yatim tidak merasa diterlantarkan, perempuan tidak direndahkan, para miskin dan fakir tidak perlu takut, kaum minoritas tidak perlu merasa terancam, mereka yang berbeda ras merasa dirangkul dalam damai, dan mereka yang berbeda agama dihargai.

Apakah ada hubungan antara hijrah dengan hal-hal yang disebut barusan? Tentu saja tidak. Sama dengan tidak adanya hubungan antara selembar uang merah 100.000 rupiah bergambar Soekarno-Hatta di tangan kita benar-benar nilai 100.000 rupiah. Yang membuat semua itu jadi berhubungan adalah imajinasi kolektif dan mitos. Dan Rasulullah SAW menawarkan hal itu.

Namun apalah arti mitos jika tidak ada yang meyakininya. Kepemimpinan Rasulullah SAW membuat semua orang Yastrib yakin pada kebenaran mitos itu dan kemudian terwujud dalam bentuk kedamaian Madinatun Nabiy atau Al-Madinah Al-Munawwarah.

Sepeninggal Rasulullah SAW, hubungan antara ‘hijrah’ dengan upaya pemutusan hubungan dengan ras, ikatan kesukuan, ras, agama, golongan, dan sebagainya lalu terikat pada ikatan transenden kembali terkoyak. Hingga detik ini.

‘Hijrah’ kini justru adalah perayaan terhadap perbedaan lalu mengkristalkannya; perayaan terhadap identitas lalu saling memperhadapakannya; perayaan terhadap jarak lalu melebarkannya; perayaan terhadap pertikaian lalu mengobarkannya; perayaan terhadap ‘kami’ lalu membumihanguskan ‘kalian’; bahkan perayaan terhadap Tahun Baru Hijriyah lalu menghakimi Tahun Baru Miladiyah. Itukah ‘hijrah’?

Rasulullah SAW pernah menihilkan jarak antara pendatang (Muhajirin) dengan pribumi (Anshar) lewat persaudaraan, tapi kini kita justru mempolitisasinya. Rasulullah SAW pernah memadamkan api perbedaan, tapi kini kita menyulutnya. Bahkan atas nama ‘hijrah’.[]

Bahan Bacaan

Tamim Ansary, Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam, Jakarta: Zaman, 2015

Yuval Noah Harari, Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2018

Abd Muid N

Abd Muid N

Dosen Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta
Komentar