Perempuan Kodingareng Adang Polisi, Upaya Jemput Paksa Nelayan Kandas

Senin, 20 Juli 2020 21:37
Perempuan Kodingareng Adang Polisi, Upaya Jemput Paksa Nelayan Kandas
ist

Kapal PT Boskalis yang menambang pasir di perairan Pulau Kodingareng, Sangkarrang, Makassar, Sulsel. Nelayan Kodingareng menolak keras penambangan pasir ini karena merusak potensi perikanan nelayan yang menjadi mata pencaharian utama mereka.

Alagraph, Makassar – Upaya aparat menjemput paksa nelayan Pulau Kodingareng Makassar, baru-baru ini, kandas. Personel Polair Polda Sulsel tertantang perempuan-perempuan nelayan Kodingareng, ibu-ibu nelayan yang selama ini getol menolak penambang pasir perusahaan asal Belanda, PT Royal Boskalis.

“Kepada pemerintah stop penangkapan warga, karena kami tidak salah. Kami benar. Kami bukan pencuri, yang pencuri itu yang ambil pasir," kata perempuan nelayan, Sakia, menyampaikan protesnya melalui jurnalis Alagraph, Senin (20/7/20).

PT Boskalis dan rekan menambang pasir di perairan Kodingareng Lompo, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, kota Makassar. Penambangan dengan penjagaan aparat kepolisian dan kalangan Boskalis.

"Hentikan keresahan warga di sini. Buat apa pemerintah bagun usaha, proyek, tapi kami yang sengsara,” kata Sakia lagi, diamini sejumlah ibu-ibu nelayan Kodingareng.

Baca juga: Polisi Larang BBM ke Pulau Kodingareng, Warga: Boskalis Mau Bunuh Nelayan

Sakia menyebut, langkah nelayan di wilayah Kepulauan Sangkarrang hanya bagian dari bagaimana mempertahankan hak hidup mereka di wilayah tangkap nelayan. Rupanya upaya itu, menurut Sakia, dikriminalisasi. 

Nelayan Kodingareng, melalui Sakia, mendesak pemerintah untuk memerhatikan keadaan nelayan Makassar, khususnya di Kodingareng-Sangkarrang.

“Hentikan. Jangan ada kriminalisasi kepada rakyat. Kamu enak aja di situ, yang membangun istana, dan rakyat dipermainkan. Di mana rasa kasihan dia. Kunjungi kami gubernur, rakyatmu sedang menangis di sini di wilayah Sangkarrang. Kami bukan pencuri pak, bukan kriminal, dia yang perampok. Kami hanya mempertahankan hak kami,” ujar Sakia.

Walhi Minta Komnas HAM-Perempuan Tinjau Nelayan Kodingareng

Plt Kepala Departemen Advokasi Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Edo Rakhman, angkat suara atas tindakan Polairut Polda Sulsel. 

Menurut Edo, Polda Sulsel tidak boleh semena-mena menjerat nelayan Kodingareng.

"Nelayan berhak melakukan penolakan keras, termasuk terhadap PT Royal Boskalis, karena perusahaan tidak pernah meminta izin dan meminta persetujuan nelayan dan perempuan di Kepulauan Sangkarrang sebelum menambang," kata Edo kepada wartawan.

Sementara itu, lanjut Edo, melihat tensi dan eskalasi penolakan dan ancaman kekerasan yang diterima nelayan dan perempuan di Pulau Kodingareng Lompo, "Kami medesak Komnas HAM dan Komnas Perempuan untuk meninjau lokasi dan berdialog dengan nelayan."

Selama nelayan kontra Boskalis-aparat. Pemerintah Provinsi Sulsel belum terlihat hadir di sisi masyarakat Kodingareng.  Nelayan Makassar harus berjuang sendiri menghadapi perusahaan asal Belanda cs.

"Saya rasa nelayan butuh kehadiran negara dalam kasus ini. Saya melihat Gubernur Sulsel tidak pernah hadir dan memberi perhatian kepada nelayan dan perempuan Kodingareng Lompo, maka harus ada representasi negara bersama para nelayan dan perempuan," ujar Edo.

Baca juga: VIDEO Nelayan Kodingareng Makassar: Kami bukan Pencuri

Kapal Boskalis Queen of Netherland berkapasitas 33.423 Gross Ton (GT) mulai penambangan pasir laut di perairan Bonemalonjo sejak tanggal 13 Februari 2020. Hingga saat Boskalis terus mengeruk ke perairan Kodingareng.

Pasir laut hasil tambang ini digunakan untuk keperluan reklamasi Makassar New port tahap II. Boskalis menambang pasir untuk reklamasi Center Point of Indonesia atau CPI di delta barat Pantai Losari Makassar.

Penambangan mengancam wilayah tangkapan ikan nelayan, pun biota laut Sangkarrang.

Tercatat 950 nelayan Kodingareng terdaftar di Dinas Kelautan dan Perikanan Makasaar. Hampir semua merupakan nelayan pencari ikan tenggiri. 

Sabtu (18/7/2020), pihak Polair Polda Sulsel menghentikan distribusi BBM yang dibawa warga dari kota Makassar ke wilayah pulau Makassar, Pulau Kodingareng. Warga Kodingareng terpaksa menyerahkan BBM belanjaan mereka ke aparat.

Menurut nelayan, biasanya pada musim April sampai Agustus, hasil tangkapan ikan tenggiri mereka meningkat. Tiap nelayan bisa meraup enam ekor bahkan lebih. 

Namun, tahun ini situasinya berbeda, aktivitas tambang Boskalis membuat nelayan kesulitan mendapat hasil tangkapan seperti tahun-tahun sebelumnya. Sekarang ini maksimal hanya dua ekor ikan tenggiri per hari. 

Derita nelayan pencari ikan tenggiri pun saat kian serius saja, selain tekanan aparat, pun harus mengamini situasi pandemi covid-19 yang membuat harga ikan tenggiri turun drastis. (Nurdin Amir)

Penulis: Nurdin Amir
Editor: Ilham Mangenre
Sumber: Alagraph

Tags: Pulau Kodingareng Sangkarrang PT Boskalis Walhi Nelayan Kodingareng
Baca Juga:
Komentar