AG-user

AG-User

Pertimbangan Etis dalam Berkarya, Itu Tugas Siapa?

Selasa, 9 Juli 2019 17:20
Pertimbangan Etis dalam Berkarya, Itu Tugas Siapa?
AG-User (Dita Pahebong)

Kesenian.

Beberapa hari lalu sosial media dihebohkan dengan munculnya sebuah gambar seorang penari yang berdiri di atas Gendang Makassar. Tidak sedikit komentar yang muncul dari berbagai bidang mulai dari komunitas seni, masyarakat, hingga kalangan kademisi.

Perdebatan di kolom komentar belangsung heboh. Rasanya perdebatan tersebut hampir menutupi wacana Pilpres.

Beragam komentar yang muncul ada yang bentuknya provokatif dengan sengaja mempertanyakan, ada pula yang memberi kritik terkait tentang etika. Meskipun ia sendiri bingung terkait  parameter etis dalam berkarya seni.

Berselang beberapa hari muncul postingan tentang klarifikasi dari pihak penari sembari mengucapkan permintaan maaf terhadap apa yang ia lakukan. Ucapan maaf ini kemudian tersebar dan berhasil meredam perdebatan. 

Tentu kita berpikir, jika permintaan maaf adalah solusi terkahir pada masalah tersebut artinya para pengkritik semakin membuka potensi untuk kehancuran kesenian kita ke depan.

Tidak bisa dimungkiri ketika teman-teman komunitas akan memilih perlakuan yang sama dengan peristiwa tersebut dengan pertimbangan kalau ada yang marah nanti tinggal minta maaf. Tentu kita semua tidak berharap  peristiwa seperti itu terjadi, tetapi dengan penanganan seperti itu maka tentunya hal demikian sangat berpotensi terjadi lagi.

Ketika masalah tersebut berhenti pada permintaan maaf tentunya muncul kekawatiran pada keberlangsungan kesenian kita ke depan. Karena penanganan seperti nampaknya menunjukkan pasifnya para pakar seni dan kebudayaan di Makassar.

Kenapa demikian? Karena tidak adanya pembacaan yang lahir dari perbincangan serius.

Mestinya  peristiwa ini menjadi momentum yang menarik untuk melakukan kritik sekaligus evaluasi bagi perjalanan  kesenian kita. Apalagi peristiwa tersebut terjadi dalam lingkup pendidikan. Artinya dari pendidikan sendiri belum berhasil menyebarkan  pertimbangan etis dalam dalam berkarya. Menurut saya itu salah satu soal yang perlu dituntaskan. 

Kita tau di era digital ini seluruh informasi dapat tersebar dalam hitungan menit namun menjadi soal bagi kita ketika informasi yang tersebar itu didominasi dengan kebencian.

Tentu muncul pertanyaan bahwa siapa lagi yang bertugas untuk mencari jalan tengah?

Ketika mengamati sekian banyak komentar, saya akhirnya ragu, jangan-jangan masyarakat ataupun pelaku seni tidak ada yang mempunyai pengetahuan cukup  tentang endang yang berasal dari pengamatan serius  baik secara filosofis maupun dari segi sosialnya. Tentu ini menjadi auto kritik bagi para pelaku seni di Makassar. 

Selain itu para koreografer dan komponis yang bergelut pada kesenian tradisional tentu menjadi tanggung jawab moral dan intellektual jika terjadi hal-hal seperti ini. Namun faktanya tak seorang pun yang mencoba memberikan pencerahan terkait pertimbangan etis yang bisa menjadi tolak ukur dalam berkarya. 

Jadi hemat Saya, terjadinya peristiwa ini bisa dikatakan sebagai soal  bagi seniman, budayawan, akademisi, pemerintahan, yang diajukan oleh Salah Satu sekolah yang takunjung di jawab sampai hari ini.

Mestinya jika ini adalah soal, tak pelu kita membenci secara berlebihan bagi yang punya soal. Yang perlu menguras pikiran adalah bagaimana menjawab soal tersebut. 

Dita Pahebong S.Sn

Dita Pahebong S.Sn

Etnomusikologi, pengkaji musik dan kebudayaan.
Komentar