AG-user

AG-User

Mantra Politikus: Spanduk dan Baliho

Jumat, 9 November 2018 06:02
Mantra Politikus: Spanduk dan Baliho
Hipwe

Ilutrasi baliho

Alagraph.com- Rabea adalah gadis desa yang sedang ingin memperbaiki nasibnya lewat ajang pemilihan legislative. Ia memajang spanduk dan baliho di sepanjang jalan Firaun. Seakan-akan mengajak akar rumput untuk ikut serta dalam bertepuk tangan, merayakan pencalonannya.

Spanduk dan baliho yang dikemas dengan tebaran mantra ala poltikus (saya tak mau sebut politisi) semakin ramai. Banyak yang beranggapan bahwa aksi Rabea ini adalah fenomena nyata dan biasa dalam demokrasi namun bagi saya ini menggelikan dan terkadang pula memalukan.

Kesumpekan akar rumput dengan beragamnya problematika hidup mulai dari harga sembako sampai tarif dasar listrik yang tidak terjangkau kini bertambah berat dengan beban batin melihat banyak baliho dan poster partai yang memasang wajah Rabea.

Seluruh anak manusia di negeri ini sama kedudukannya dalam ruang demokrasi. Rakyat berdaulat katanya begitu dan begitu katanya. Atas nama itulah demokrasi dikukuhi tanpa ada alibi.

Padahal, sadar atau tidak, demokrasi disulap menjadi instrumen  untuk menghipnotis rakyat dengan sebutan pemegang kedaulatan walau seringkali rakyat sendiri sebagai pemegang kedaulatan justru ditipu dengan mantra penjinak simpati ala politisi.

Pemilihan calon anggota legislatif yang acapkali disingkat Caleg sudah mewarnai ruang-ruang komunitas dalam skala yang menggairahkan meski semakin meresahkan dan menggelikan.

Mantra yang acap kali terucap dan terpampang di mana-mana adalah “Mohon Doa Restu".

Jika suatu ketika Anda temui hal ini, maka bersiap-siaplah tarik nafas dalam-dalam dan menelan ludah sebelum kecewa. Sebab di sudut kiri, terpampang foto wajahnya yang didesain sedemikian rupa agar secara visual tampil rupawan dan cantik memesona.

Di sebelahnya lagi tertulis deretan gelar akademis, gelar kebangsawanan, gelar keagamaan, hubungan kekerabatan dengan tokoh partai politik dan status sosial lain.

Nah, dibagian bawahnya tak lupa dituliskan janji politik Rabea. Bahkan ada sebuah mantra yang selalu terpampang di baliho milik Rabe yang justru gagal logika “Berikan Bukti bukan Janji”.

Mantra berikan bukti tapi janji hanyalah gombalan Rabea sebagai seorang poltikus, Rabea tak lebih seperti pengelola pusat perbelanjaan yang suka menggelar obral diskon. Wajar saja jika acap kali kita temui berbagai mantra-mantra suci.

Bukan hanya Rabea yang memasang wajah tak berdosa tapi penuh dengan mantra, melainkan hal yang sama juga dilakukan oleh segerombolan politikus rakus.

Mereka sedang memohon dengan mantra sakti dan rakyat jualah yang akan mengabulkan permohonan itu.

Kini saatnya kita mesti sadar bahwa kita tak mesti percaya pada janji-janji. Dunia ini memang menjanjikan: janji tentang kekayaan, keselamatan bahkan rasa cinta yang punya batasan.

Tapi nyatanya? Mengecewakan juga.

Jadi, pemilu nanti kita jangan sampai salah pilih.

Abdul Rasyid Tunny

Abdul Rasyid Tunny

Akademisi dan Pecinta Perbedaan
Komentar