Ramadan dan Kerinduan

Rabu, 22 Mei 2019 08:45
Ramadan dan Kerinduan
Ist

Ilustrasi

Oleh: Sultan Sulaiman, S.Sos

Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Kab. Polewali Mandar

Setiap kita mungkin bukanlah orangtua. Tapi tak ada yang bisa menyangkal jika semua kita anak dari orangtua. Ramadan, kedatangannya hanya sekali setahun. Namun yang menyertai kedatangannya selalu ada rindu yang biru. Tentu, rindu yang paling syahdu milik para orangtua kita.

Terbayang lagi, masa-masa lalu itu, masa-masa berkumpul. Kita, adik, kakak, bapak dan ibu. Semuanya bersatu menyongsong bulan penuh rahmat. Bersama, menyiapkan hidangan terbaik di sahur pertama. Bagi orang-orang bugis, sahur pertama adalah masa berkumpul yang patut ditunaikan: makkatenni puasa. 

Kebahagian berkumpul di awal puasa tak bisa dilukiskan. Di dada para orangtua kita, kedatangan kita dari jauh, dari perantauan, hanya untuk menunaikan hajatan berkumpul adalah bentuk bahagia yang sempurna. Setelah sekian lama saling mendekap sepi, berkarib dengan kegetiran, bersabar dengan rindu yang mendayu-dayu, kedatangan anak-anaknya, pula beserta menantu dan cucu-cucunya sebentuk mata air pengusir dahaga. Itu bahagia paling sempurna yang diingini sejak lama. 

Namun tak semua orangtua beruntung bisa berkumpul dengan anak-anaknya. Kadang, panggilan teleponnya berlalu begitu saja. Pun jika terangkat, jawaban yang diberikan memaksa dadanya harus selalu lebih lapang.

“Ma...Pa...Kami belum bisa pulang!”

Dan...orangtua kita selalu punya cara meramu agar keadaan baik-baik saja. Utamanya ibu, walau menanggung rindu yang teramat. Ibu selalu punya trik berkelit tanpa kita tahu. 

“Tak usah pulang Nak! Bapak sama ibu di sini baik-baik saja. Semoga di sana kalian juga baik-baik. Bapak dan ibu selalu berdoa yang terbaik!”

Begitulah. Di tanah rantau, tentu banyak kondisi tak terduga yang kadang membuat seorang anak gagal pulang. Mereka yang tinggal di luar pulau, jauh dari keluarga, dengan hanya bergantung pada transportasi udara, harus lebih memanjangkan sabar.

Beberapa bulan terakhir, harga tiket pesawat melambung. Membunuh segala rindu, termasuk rindu pulang berkumpul bersama keluarga.

Harga tiket pesawat sepertinya telah menikam ruang empati anak dan orang tua. Mengubur ruang untuk bisa saling menebus kasih di bulan suci. Memang, bukan soalan isi dompet belaka. Tapi bagi anak-anak rantau, kenaikan harga tiket tentu kabar pilu. 

Ramadan dan segenap kerinduan. Pada penghabisannya, ada fajar lebaran yang akan terbit. Lebaran akan mengakumulasi segala macam kerinduan. Rindu akhirnya berbuah air mata, bagi tangan yang tak bisa saling menjabat, bagi tubuh yang tak mampu saling merengkuh. Air mata menjadi penebus segalanya.

Jika hanya jarak, suatu saat tentu akan bertemu lagi bukan? Di momen yang tentu lebih syahdu menurut pandangan Yang Pengasih. Tapi masihkah Sang Pengasih memberi kesempatan? Hanya doa.

Lalu bagaimana menebus kerinduan kepada oragtua yang telah pergi lebih dulu. Tak semua anak beruntung, pula tak semua orang tuapunya banyak kesempatan.

Kita bisa saja merencanakan pertemuan, jika bukan tahun ini, bisa tahun depan. Namun, setiap kita bergerak dalam jalur takdir masing-masing. Selagi masih ada kesempatan.

Sudah setahun lebih, meninggalkan tanah serambi madinah berarti meninggalkan bongkah rindu di sana. Tadinya, harapan terus dipanjangkan, bahwa kesempatan akan selalu ada. Nyatanya, rencana Sang Pengasih telah terukir sebelum Ramadan tahun ini.

Orang yang kami kasihi, telah menemui Tuhannya di ujung tahun. Lalu kepulangan kami hanya sebagai pelengkap pada suratan penuh luka. Gundukan tanah basah, dengan taburan aneka kembang yang sudah layu. Di situ Papa disemayamkan.

Selagi ada kesempatan, kita memiliki pilihan untuk menebus rasa rindu atau memanjangkannya dengan berharap cemas, karena takdir mungkin akan merampasnya kapan saja. Hanya doa!

Editor: Sriwidiah Rosalina Bst
Sumber: Alagraph

Tags: Ramadan 1440 H Ramadan
Baca Juga:
Komentar