AG-user

Opini

Reuni di Tengah Pandemi

Minggu, 26 Juli 2020 14:24
Reuni di Tengah Pandemi
abitleftandabitlost.com


Nusantara sedang berduka dilanda wabah. Keterpurukan ekonomi memaksa bangkit kembali pasca aturan “New Normal” diberlakukan. Berdasarkan informasi dari www.kemnaker.go.id per April 2020, jumlah pekerja yang terdampak Covid-19 total sebanyak 2.084.593 pekerja dari sektor formal dan informal yang berasal dari 116.370 perusahaan. Bayangkan, dari ratusan juta jiwa penduduk Indonesia yang terdaftar ada lebih dari dua juta jiwa manusia yang mengalami degradasi penghasilan. Tentunya, hal ini akan sangat berefek fatal pada keluarga si pekerja.

Alhasil banyak yang ‘dirumahkan’, istilah halus mengacu pada pemecatan secara mendadak. Para pekerja yang biasa hampir tidak punya waktu harus dihadapkan dengan situasi dirumah bersama keluarga dan rutin bertemu. Memang, salah satu hal yang tersulit dilakukan adalah membiasakan hal yang tidak biasa dan menidakbiasakan hal yang biasa. Bagi yang terbiasa sibuk, ketika tidak produktif akan menjadi suntuk. Rutinnya bekerja hingga sulit mengatur akhir pekan bersama menjadi keseharian para pekerja. Tak jarang, dampak dari ‘dirumahkan’ memunculkan masalah baru, yaitu selisih paham antar anggota keluarga. Sehingga, ketika ajakan keluar datang, mudah untuk menyetujuinya. 

Kontradiksi jelas terlihat disini, dimana anjuran otoritas setempat untuk tetap berada di rumah sambil menanti pandemi berakhir. Kapan kah itu? Tidak ada yang tahu. Menunggu ketidakpastian sambil tidak punya pendapatan semacam tenggelam di limbah yang dipenuhi sampah, sial benar. Ruang gerak bebas namun berbatas. Tren keramaian kantor sudah bergeser ke semakin ramainya tempat tongkrongan. Nalurinya, manusia membutuhkan hiburan agar ritme hidup tidak meredup. Pun, undangan reuni disanggupi. Dalih tidak lama berjumpa menjadi alasan untuk bisa keluar dari rumah sekedar menikmati kebebasan yang ‘berbatas’. 

Reuni, identik dengan “Siapa Saya Sekarang” pasti menyiapkan penampilan terbaik agar tidak mengecewakan diri sendiri. Euforia pertemuan yang kerap diwarnai esensi pengukuhan diri ternyata berubah menyesuaikan dengan pandemi yang sedang terjadi. Kafe yang dipilih pun ramai, berlokasi di pinggir jalan oleh hilir mudik. Tidak ada laptop yang terlihat sebagai bagian dari aktivitas perkantoran yang umum digunakan. Setiap karib yang ditemui nyaris mengeluhkan hal yang sama: sebagian besar ‘terpaksa’ berhenti kerja dan selebihnya mengalami wisuda yang tertunda. Atmosfer kumpul sejawat terasa berbeda, tidak ada kompetisi siapa-terhebat. Berbagi kesedihan antar-sesama justru menguatkan dan mengingatkan: kita tidak sendiri.

Walaupun terdengar klise dan hanya pemanis semata, ungkapan di balik setiap musibah terdapat hikmah tidaklah salah. Diballik setiap tragedi, ada beberapa hal tersembunyi yang patut disyukuri. Seperti halnya pandemi ini yang memberi arti bahwa menjadi pribadi yang ikhlas itu proses yang berlangsung seumur hidup. Sebagai seorang pegiat sastra, falsafah jawa Nrimo ing Pandum, yang bermakna kita sebagai insan hidup harus menjadi legawa atas segala peristiwa yang menimpa.

Pandemi ini adalah pembunuh berantai yang tidak mengenal siapa korbannya. Kita tidak bisa membencinya karena tidak akan menyelesaikan masalah. Namun kita bisa mengatasinya dengan menjadi patuh terhadap tata-tertib kesehatan. Kegiatan selama isolasi di rumah dapat dilakukan dengan perbanyak intropeksi diri belajar menjadi sosok yang lebih tegar. Supaya setelah pandemi usai, kita bisa menjadi lebih siap untuk kembali memulai.

Akhir kata, tetaplah bahagia untuk semua dan semoga semesta alam ‘kan berkenan selalu menjaga.

Tags: Dinda Nazlia Nasution Pandemi Covid-19
Baca Juga:
Komentar