AG-user

AG-User

Tasbih Semesta

Kamis, 14 Maret 2019 12:40
Tasbih Semesta
Ist

Ilustasi

Konon bukan hanya cinta (yang) bertasbih. Semesta pun senantiasa bertasbih dan manusia ada yang memahaminya dan ada yang tidak. Bahkan ada manusia yang bertasbih bersama dan menari seirama tasbih semesta. Dan konon itu disebutkan di dalam Al-Quran, yaitu: Tusabbihu lahus samâwaatus sab’u wal ardhu wa man fîhinna. Wa in min syay’in illâ yusabbihu bi hamdihî wa lâkin lâ tafqahûna tasbîhahum. Innahû kâna halîman ghafûrâ. (QS. Al-Isra/17: 44). Artinya: “Langit yang tujuh, bumi, dan semua di dalam keduanya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”

Bagaimana tasbih semesta dan bagaimana memahaminya? Hanya yang memahami tasbih semesta yang bisa menjawab pertanyaan ini dengan baik. Sedangkan saya, saya tidak lebih dari orang yang dimaksud oleh ayat di atas: “tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka”. Namun saya boleh lah mencoba menduga-duga jangan-jangan tasbih semesta tidak terlalu sederhana dan tidak pula terlalu rumit. Misalnya, terbit di pagi hari dan tenggelam di sore hari bagi matahari adalah sebentuk tasbih matahari. Berputarnya benda-benda langit pada poros dan sumbunya adalah tasbih mereka. Jika itu yang dimaksud tasbih semesta, maka benar bahwa ada yang memahaminya dan ada yang tidak. Untuk hal itu, saya termasuk yang hanya paham sedikit. Mereka para pakar astronomi lebih memahami tasbih semesta dalam bentuk seperti itu. Para pakar sosiologi lebih memahami tasbih masyarakat; para pakar medis dan kesehatan lebih memahami tasbih tubuh biologis manusia; para pakar kimia lebih memahami tasbih materi; dan begitu seterusnya.

Bagaimana dengan tasbih manusia? Bukankah manusia termasuk anggota semesta? Tasbih manusia ada dua: pertama, sebagaimana tasbih matahari yang melaksanakan tugasnya terbit dan tenggelam, maka manusia pun bertasbih dengan melaksanakan tugasnya sebagai khalîfah untuk memakmurkan dunia. Seorang kakek yang mengantar dan menjemput cucunya pulang-pergi sekolah adalah sebentuk tasbih sang kakek. Seorang guru mengajar muridnya adalah sebentuk tasbih sang guru. Seorang ayah yang membanting tulang mencari nafkah untuk keluarganya adalah sebentuk tasbih sang ayah. Seorang ibu yang mengurus keteraturan rumah tangganya adalah tasbih sang ibu.

Tasbih jenis pertama di atas itu adalah tasbih manusia yang mirip dengan tasbih anggota semesta yang lain seperti matahari, bulan, awan, lautan, dan sebagainya. Adapun tasbih manusia jenis kedua adalah tasbih yang tidak terjadi pada anggota semesta yang lain, hanya terjadi pada manusia dan hanya ditanggungkan kepada manusia.

Tasbih manusia yang kedua itu adalah tugasnya untuk memahami tasbih semesta. Itu sebagaimana disebutkan oleh ayat QS. Al-Isra/17: 44 dengan sindiran Allah SWT: “tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka”. Karena akal telah diamanahkan kepada manusia, maka manusia harus mampu memahami tasbih semesta, dan itu adalah sebentuk tasbih manusia itu sendiri. Dan barangkali itulah tasbih yang lebih tinggi dari tasbih anggota semesta yang lain. Contohnya, pakar astronomi, pakar sosiologi, pakar medis dan kesehatan, pakar kimia, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Dan masih banyak lagi pakar yang lain selain mereka.

Dengan tasbihnya yang kedua, manusia mamahami tasbih semesta dan bahkan menari dalam harmoni indah bersama tasbih anggota semesta yang lain. Dengan cara itulah manusia mewujudkan fungsi ke-khalîfah-annya secara maksimal, memakmurkan alam, menjaga keseimbangan semesta, dan juga menjaga hubungan baiknya dengan sesama manusia.

Abd Muid N

Abd Muid N

Dosen Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta
Komentar