AG-user

AG-User

The Great Imam Shamsi Ali

Rabu, 7 November 2018 13:45
The Great Imam Shamsi Ali
AG-User (Abd Muid N)

Grand Imam Shamsi Ali tampak memayungi Imam Besar Istiqlal, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA.

Alagraph.com- Barangkali saya adalah orang yang paling beruntung di New York hari itu, Senin (5/11/2018) waktu New York. Grand Imam Istiqlal Nasaruddin Umar tidak mau saya meninggalkan New York tanpa saya melihat Manhattan dan Grand Imam Al-Hikam New York Shamsi Ali menyetujuinya serta bersedia membawa mobil beliau untuk mengantarkan saya.

Jadilah saya keliling Manhattan bersama dua Grand Imam. Sungguh perjalanan yang penuh berkah. Satu-satunya hal yang membuat kikuk jika bersama dua Grand Imam adalah: Siapa yang akan mengambil gambar saya? Saya kan butuh status FB? Gak mungkin kan saya menyuruh para Grand Imam memoto saya lalu saya berlagak seribu gaya? Tapi memang Imam Shamsi adalah orang baik. Beliau menawarkan diri untuk memoto saya.

Pertama-tama perjalanan dimulai ke sebuah pesantren yang didirikan oleh Imam Shamsi Ali di daerah Connecticut, sebuah pesantren di bawah Nusantara Foundation dirian Imam Shamsi Ali juga. 

Pesantren itu adalah proyek brillian seorang Imam Shamsi, sebuah mimpi yang separuh malam lagi akan menjadi kenyataan. Menurut Imam Shamsi, mulanya beliau hanya memimpikan untuk mendirikan Muallaf Center, sebagai tempat untuk memberikan penerangan agama bagi orang-orang yang baru masuk Islam. Namun dengan berdirinya pesantren, itu adalah sebuah wahana yang melampaui Muallaf Center karena bisa pula menjangkau pendidikan usia yang jauh lebih muda sebagai tiang-tiang masyarakat Muslim Amerika masa depan. 

Pesantren itu sendiri sedang berada dalam tahap awal pendirian, yaitu melengkapi sarana fisik. Dengan luas 7,5 hektar, di wilayah pesantren itu telah ada beberapa bangunan yang berfungsi sebagai asrama, ruang pertemuan, dan calon ruang belajar. Selain itu, telah ada kolam renang, lapangan volley, lapangan basket, lapangan sepak bola, dan kolam ikan. Khusus untuk kolam ikan ini, Imam Shamsi merencanakan untuk menjadikannya tempat peternakan ikan yang berdampak bagi operasional pesantren. 

Sungguh di kepala Imam Shamsi telah menggelinding banyak ide besar dan salah satunya adalah kerjasama dengan peternakan sapi yang terletak tidak jauh dari pesantren untuk menyediakan daging halal bagi masyarakat New York dan Connecticut. Imam Shamsi memang adalah orang yang luar biasa. 

Tahap selanjutnya dari pembangunan pesantren itu adalah penambahan satu gedung dan satu masjid. Sekarang masjid itu sedang dibuat gambarnya oleh Pak Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat. Ada yang mau beramal jariyah? Silakan kontak Imam Shamsi Ali. 

Namun ide-ide besar tidak akan pernah terwujud jika Imam Shamsi seorang diri yang menekuninya. Suatu hal yang luar biasa dari Imam Shamsi adalah dukungan keluarganya untuk ide-ide Imam Shamsi. Kebetulan sewaktu saya bermalam di rumah Imam Shamsi, di sana ada pula bermalam anak-anak dari Sekolah Insan Cendekia Madani sekira 10 anak bersama pembinanya. Mereka di sana selama 2 bulan sampai Desember. Mereka diayomi seperti anak-anak sendiri. 

Saya bertanya dalam hati, energi apa yang ada di balik kesediaan, keramahan, ketelatenan, kelapangan, dan sebagainya sehingga keluarga Imam Shamsi, terutama istrinya, Bunda Mutiah, melaksanakan semua itu dalam senyuman? Saya hanya berjumpa satu jawaban: energi keikhlasan dalam berdakwah. Untuk hal yang satu ini, kita semua sudah tahu bahwa Imam Shamsi memang telah mewaqafkan hidupnya di jalan dakwah. 

Terpesona pada sosok Imam Shamsi Ali, membuat saya kelupaan pada keberuntungan saya di hari Senin (5/11/2018).

Ya, tanpa lelah, setelah dari pesantren Nusatara Foundation dan setelah makan siang, Imam Shamsi mengantarkan kami berkeliling New York dan Manhattan. Perjalanan dari kediaman Imam Shamsi ke Manhattan, memakan waktu sekira 2 jam. Di sana ditunjukkan Empire State Building yang puncaknya sampai tidak terlihat dari bawah karena tertutup awan hujan lalu mampir ke toko buku Barnes & Noble di mana Grand Imam Nasaruddin Umar terlihat begitu bahagia sehingga seakan-akan hendak membeli semua isi toko. Beliau memang pecinta buku. Di pojok rak saya melihat buku melihat buku berjudul: “Singa Buku”. Barangkali itu maksudnya lebih Dahsyat dari hanya “Kutu Buku”. Dan gambaran Grand Imam Nasaruddin Umar seperti itu. 

Kesabaran Imam Shamsi berlanjut. Keesokan harinya, Imam Shamsi mengantar kami kembali. Kembali ke Manhattan, tetapi kali ini untuk berpisah karena kami menuju Albany. Semoga kembali berjumpa, Grand Imam! Kebaikan Grand Imam tak akan kami lupakan. Albany, kami datang!

Abd Muid N

Abd Muid N

Dosen Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta
Komentar