AG-user

Wanita dan Peradaban

Selasa, 23 Juni 2020 14:52
Wanita dan Peradaban
AG-User (Ikbal Tehuayo)

Martha Christina Tiahahu, Pahlawan Nasional.

Arsitektur alam semesta dengan keunikan yang memukau ini, tak sedikit anekaragam keindahan yang bisa kita saksikan. Dari daratan, lautan hingga ruang angkasa yang bertaburan bintang-gemintang .

Dari sekian banyak keindahan alam yang tak terhitung di jagad ini, rasanya tak lengkap bila wanita tidak di ciptakan.

Dari syair-syair dan catatan sejarah ilmiah para ahli, semuanya bergandengan dalam satu tafsir yang sama, yaitu, keindahan surga sekali pun tak mampu mendonorkan ketentraman yang lengkap di dalam jiwa Adam, bila Hawa tidak diciptakan.

Wanita adalah penyumbang ketentraman. Terlukis abadi di dalam lembaran buku pedoman hidup ( Alquran) yang menginformasikan kepada kita bahwa, diantara tanda-tanda kekuasan Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. (QS Ar Rum : 21)

Wanita disebut sebagai perhiasan yang paling baik di hamparan bumi. Kekasih Tuhan pembawa rahmat, Muhammad SAW dalam sabda yang artinya: "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik- baik perhiasan adalah wanita shalehah"(HR. Muslim no 1467)

Salah satu istilah yang sudah menjadi sahabat karib di telingah kita adalah, di balik sosok pria yang sukses ada wanita yang tangguh. Istilah ini tentu bukan khayalan atau dongeng belaka untuk memuja wanita.

Dari bumi nusantara hingga dataran eropa, siapa yang tak mengenal sosok B.J. Habibie dengan Kejeniusannya, namun dibalik kejeniusan dan kesuksesannya, ia tak berdiri sendiri, sebab di belakangnya ada kekasih belahan jiwa yang selalu menopangnya, yaitu Ainun.

Barack Obama tidak asing di telingah warga dunia, presiden ke 44 Amerika Serikat yang berkulit hitam ini mampu meraih nobel perdamaian dunia pada 2009 silam, namun ia juga tak seorang diri, di belakangnya ada sosok penyemangatnya yaitu Michelle, istrinya.

 Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa wanita diciptakan bukan sekedar menjadi ibu rumah tangga dan menjaga anak-anaknya di rumah, tapi, mereka adalah energi yang begitu dahsyat bagi perdaban dan perkembangan umat manusia.

Bila mengintip sejarah peradaban Islam yang begitu cepat menyentuh jiwa manusia diseluruh penjuru dunia, maka, kita tak bisa lepas dengan peran Khadija yang mendukung Muhammad untuk menyebarkan ajaran Islam.

Tentu tak hanya Khadija, masi banyak wanita yang ikut serta dalam upaya untuk berkembangnya peradaban Islam, dari persoalan yang sederhana hingga yang dapat mengancam keselamatan.

Asma Binti Abu Bakar misalnya. Ia merupakan salah satu contoh wanita yang dalam hatinya begitu cinta akan Nabi Muhammad dan ayahnya Abu Bakar sebagai tokoh perdaban Islam, ia dengan berani membawa makanan buat Ayahnya dan Nabi Muhammad di Goa Tsur tempat persembunyian dari kaum Kafir Quraisy yang merencanakan pembunuhan.

Dari bumi pertiwi, keberhasilan melapaskan belenggu penjajahan yang begitu lama menyiksa rakyat, tak bisa kita nafikan adanya peran kaum wanita.

Hal ini terbukti dengan adanya pengesahan wanita sebagai pahlawan nasional, diantaranya adalah:  Fatmawati, Martha Christhina Tiahahu dan masih banyak lagi.

Wanita bukanlah sosok yang lemah, bukan hanya untuk berkembang biak, juga bukan sekedar tempat menyalurkan syahwat lelaki.

Soong Ching Ling ( Tiongkok ) Corazon Aquino ( Filipina ) Ruth Dreifuss ( Swiss ) hingga Megawati Soekarno Putri ( Indonesia ) mencerminkan bahwa tak hanya lelaki yang bisa dianggap kuat dan menjadi pemimpin untuk kemajuan peradaban manusia.

Dalam sejarah umat manusia, perempuan pernah dianggap tak berguna. Tradisi arab jahiliyah perempuan adalah aib dan sumber kelemehan, mereka tak mampu membela sukunya dari ancaman perang, itulah yang meyebabkan tak sedikit anak perempuan dari mereka yang dikuburkan hidup-hidup.

Peradaban Romawi menjadikan perempuan sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah kawin, kekuasaan pindah ke tangan suami. Kekuasaan ini mencakup kewenagan menjual, mengusir, menganiaya dan membunuh.

Peradaban Hindu dan China tidak lebih baik dari yang lain. Hak hidup perempuan yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya, isteri harus dibakar hidup-hidup pada saat mayat suaminya dibakar.

Dalam pandangan Yahudi, martabat perempuan sama dengan pembantu, mereka menganggap perempuan adalah sumber laknat karena dialah yang menyebabkan Adam diusir dari surga. 

Sementara oleh orde baru gerwani (gerakan wanita  Indonesia ) disebut sebagai pelacur bejat moral dan merupakan lahan perluasan PKI. Namun ternyata dalam temuan penelitian menyatakan bahwa gerwani adalah organisasi masa perempuan yg suaranya sangat keras dalam membela hak2 perempuan. Bahkan disebutkan mendukung pembebasan irian barat dari kolonialisme.

Dalam sejarah gerakan feminis dunia di rintis oleh Olympee  de Gouges di prancis pada abad 18 memimpin kaum perempuan miskin paris berdemonstrasi ke parlemen menuntut pengadaan roti. Ini adalah langkah revolusioner karena persoalan roti yang di pandang sebagai persoalan dapur di transformasikan ke persoalan politik bahwa mahalnya harga roti berkaitan dengan kekacauan politik. Terlihat bahwa, di dalam jiwa perempuan pun ada jiwa revolusi untuk mempertahankan kemaslahatan kehidupan orang banyak.

Jelas realita mutakhir ini perempuan tak lemah seperti dianggap pada zaman dahulu. Polwan ( polisi wanita ) dan kowat ( tentara wanita ) di pundak mereka ada harapan negara untuk menangkis dan mengamankan kekacauan yang datang dari luar maupun dari dalam negeri sendiri, itu artinya di dalam diri perempuan pun ada kekuatan yang dapat menopang utuhnya sebua bangsa.

Mungkinkah generasi bangsa Arab akan berlangsung hingga kini bila perempuan arab menjadi musnah akibat menguburkan setiap anak perempuan hidup-hidup? Apakah  China bisa berkembang mencapi milyar penduduk bila perempuan-perempuan dibakar? Atau mungkinkah orang yahudi dapat menciptakan generasi yang cerdas bila melaknat perempuan dan akan berpengaruh pada psikologinya hingga bayi-bayi yang akan lahir pun terkenal dapaknya, yaitu ASI tak berkualitas karena stres.

Dari tiga poin itu sudah mampu mengaktifkan kesadaran kita akan pentingnya kehadiran sosok perempuan dalam segala aspek kehidupan. Baik sosial, ekonomi politik maupun pertahanan. Oleh karena itu, hendaklah kita membayar utang peradaban dengan menghargai hak-hak dan menjamin kesetaraan perempuan dalam aspek kehidupan berwarga negara.

Ikbal Tehuayo

Ikbal Tehuayo

Penulis Junior
Tags: Opini
Baca Juga:
Komentar