Home ยป Sains

Warna Daging dan Telur Ayam Dipengaruhi Jenis Pakan

Senin, 25 Februari 2019 21:19
Warna Daging dan Telur Ayam Dipengaruhi Jenis Pakan
Ist

Foto ilustrasi

Alagraph.com, Makassar - Ayam termasuk dalam kelompok daging putih yang memiliki kadar protein tinggi dibanding dengan daging merah. Namun, sering kali kita mendapatkan telur dan daging ayam di pasar terlihat pucat.

Warna dan kualitas daging ayam juga telur dipengaruhui komposisi pakan yang diberikan. Jagung menjadi pilihan banyak pemelihara ayam karena kandungan gizi yang cukup tinggi serta kandungan karbohidrat sebagai sumber energi.

Gandum juga terkadang digunakan untuk pakan ayam. Akan tetapi, campuran gandum yang berlebihan akan membuat warna daging dan telur ayam menjadi pucat. Mengandung serat kasar dan energi metabolisme yang rendah.

Berbeda dengan pakan jagung yang akan menghasilkan daging segar serta kuning telur yang cerah.

Karena peternak tidak mau kualitas hasil ternaknya menurun. Kalangan pengusaha makanan ternak tidak banyak menggunakan gandum dalam mencampur pakan ayam sebagai pengganti jagung. 

Baca juga: Peserta KKN-E Unifa Kelurahan Batua Bakal Pemberdayaan UKM

Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Sudirman menjelaskan bagaimana makanan dapat memengaruhi warna daging dan telur ayam.

"Kalau pakai gandum itu warnanya pucat dan perlu ada tambahan zat lagi. Nah, kalau jagung itu nggak perlu tambahan," katanya.

Februari lalu, salah seorang komisioner Ombudsman menyebutkan terjadi politik pengalihan impor (dari jagung) kepada komoditas yang tidak terlalu sensitif (gandum).

Pengaturan pemasukan bahan pakan ternak asal tumbuhan termasuk gandum telah diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 57 Tahun 2015.

Berdasarkan data Direktur Pakan, pada 2011 impor gandum untuk bahan pakan ternak sebanyak 80.078,7 MT (Metrik Ton), pada 2012 impor gandum sebanyak 63.195,1 MT, tahun 2013 sebanyak 63.741,4 MT, pada 2014 sebanyak 104.555,0 MT, tahun 2015 sebanyak 240.015,5 MT, pada 2016 sebanyak 2.150.094,9 MT, dan tahun 2017 sebanyak 186.363,04 MT.

Baca juga: Warga Bone Harap KKN UIN Alauddin Kembangkan Hasil Palawija

Direktur Jenderal Peternakan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita mengklarifikasi terkait impor gandum.

"Impor gandum pakan bukan sebagai pengganti jagung, melainkan sebagai salah satu komponen formula pakan ternak, karena gandum tidak diproduksi di dalam negeri," kata katanya dikutip dari Republika.com, Kamis (21/02/2019).

Tahun lalu, rekomendasi pemasukan gandum sebagai bahan pakan ternak tidak ada. Sebab perusahaan pakan ternak tida ada yang mengajukan permohonan impor gandum.

Sementara pada 2017, diakui Ketut, tidak ada impor jagung untuk bahan pakan ternak. Sedangkan pada 2018, pemerintah melalui Rakortas merencanakan impor jagung sebanyak 180 ribu ton yang dilakukan oleh Perum Bulog. 

"Namun sesuai informasi Perum Bulog realisisasi impor hingga 20 Februari 2019 sebanyak 98,60 ribu ton," katanya.

Sejak dikeluarkannya Permendag No. 21 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Jagung. Kementerian Pertanian tidak lagi menerbitkan rekomendasi pemasukan Jagung sebagai bahan pakan ternak.

Menurut I Ketut Diarmita importasi gandum pakan ternak mengalami penurunan pada 2017. Bahkan pada 2018, Kementerian Pertanian tidak lagi menerbitkan rekomendasi pemasukan gandum sebagai bahan pakan ternak.

Capaian pemerintah yang disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam Debat Capres kedua Ahad 17 Februari 2019, bahwa Indonesia berhasil mengendalikan angka impor jagung.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) impor jagung sepanjang tahun 2018 mencapai 737,22 ribu ton dengan nilai US$ 150,54 juta.

Sementara, Kementerian Perdagangan (Kemendag) tercatat telah menerbitkan surat persetujuan impor (PI) jagung 100.000 ton. 

Impor jagung ini merupakan rekomendasi dari Kementan yang diputuskan dalam rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jumat (2/11/2018) silam.

Pada Debat Capres Jilid 2 di Hotel Sultan, Presiden Joko WIdodo (Jokowi) menyampaikan bahwa impor jagung Indonesia berkurang drastis pada tahun 2018. Sebelumnya, pada 2014 Indonesia impor 3,5 juta ton jagung, dan di 2018 hanya impor 180.000 ton.

"Pada 2014 lalu kita masih impor 3,5 juta ton jagung,  sedangkan tahun 2018 kita hanya import 180 ribu ton jagung. Artinya ada produksi 3,3 juta ton yg telah dilakukan petani, ini sudah lompatan besar," ujar Jokowi dalam Debat Capres Jilid 2 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). (Hardianti Jamal/Alagraph)

Penulis: Hardianti Jamal
Editor: Sriwidiah Rosalina Bst
Sumber: Alagraph

Tags: Pakan Ayam
Komentar