AG-user

AG-User

Zaman Modern Geser Pamor Aksara Batak Karo

Kamis, 16 Agustus 2018 22:07
Zaman Modern Geser Pamor Aksara Batak Karo
AG-User (Khintan)

Simbol aksara batak karo yang masih tersisa dari dinding yang sudah roboh.

Aksara batak karo yang konon dapat menolak bahaya dan racun tak lagi dapat ditemukan. Sebab masyarakat Desa Dokan, Kabupaten Karo tak lagi berpegang pada keyakinan itu.

Ketika mengikuti kelas linguistik, dosenku bilang, “language does change when the society goes”. Iya, katanya bahasa itu berubah ketika masyarakatnya juga berubah. Bahkan suatu bahasa bisa punah ketika masyarakatnya tak lagi menuturkannya. Kemudian, mulailah ia memaparkan beberapa contoh bahasa yang sudah mulai jarang digunakan.

Bahasa Sansekerta dan bahasa Latin merupakan dua bahasa yang sudah jarang ditemukan penuturnya. Kedua bahasa tersebut hanya digunakan oleh tokoh-tokoh agama sahaja. Sehingga bahasa itu tak lagi digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Punahnya bahasa juga berbanding lurus dengan punahnya aksara dari bahasa itu sendiri. Begitu kata dosenku yang bergelar professor di bidang linguistik itu.

Lalu, apa yang ia ajarkan di kelas masa itu, kini dapat kupahami dengan baik. Perjalanan ke Desa Dokan, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sebagai salah satu rangkaian kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional yang kuikuti mengantarkanku pada fakta bahwa Aksara Batak Karo sudah tak bisa lagi dijumpai sesering dulu. Hal tersebut disebabkan nilai-nilai kepercayaan di masyarakat sendiri sudah mulai bergeser.

“Sekarang aksara batak karo sudah tidak ada lagi,”kata Tokoh Agama Desa Dokan, Adnan Situmpu, Selasa (17/7).

Aksara batak karo memiliki dwifungsi. Pertama, digunakan sebagai media komunikasi. Kedua, dipercaya sebagai penolak bahaya dan penolak racun pada makanan. Menurut lelaki berusia 43 tahun itu, sewaktu kecil, ia masih bisa menjumpai aksara batak karo. Misalnya tulisan Ndi Ntah di ukad (sendok nasi yang terbuat dari bambu), abal-abal (tempat ikan yang berbentuk bulat), dan pengikat padi.

Masyarakat batak karo dahulu menajamkan batang pohon nira untuk menulis aksara tersebut. Kemudian, tintanya diperoleh dengan cara mencampur dan mengolah lak-lak (kulit kayu), buah berbentuk bulat dan dedaunan. Namun, Adnan tak mengetahui dengan pasti nama buah dan daun itu.

“Dulu, aksara batak karo juga biasa ditulis di lak-lak. Dan guru belin (dukun) sangat didengarkan anjurannya oleh masyarakat untuk menuliskan aksara batak karo pada alat-alat rumah tangga atau pengikat padinya, karena masyarakat dulu punya kepercayaan-kepercayaan semacam itu,”tutur Adnan.

Namun, masyarakat tak lagi menggunakan nilai-nilai kepercayaan akan fungsi kedua aksara batak karo itu. “Ya, sekarang ini kan sudah modern, dan juga kami punya Allah. Sehingga sudah tidak percaya lagi akan hal-hal seperti itu,”ujar Adnan.

Meski begitu, aksara batak karo dasar masih diajarkan kepada siswa Sekolah Dasar (SD). Dan beberapa simbol aksara batak karo pernah digunakan oleh Adnan. Ia bercerita, suatu hari lembunya sedang sakit. Sehingga ia dianjurkan untuk memberikan lembu tersebut daun piso-piso yakni daun yang mirip lidah buayayang sudah dituliskan aksara batak karo. Yang kemudian terjadi ialah lembu tersebut sembuh dari sakitnya.

“Simbol yang saya pakai waktu itu, tapak kaki sulaiman laki-laki, tapak kaki sulaiman perempuan, dan bintang tujuh. Dan ternyata, lembu saya sembuh setelah makan daun piso-piso yang disertai simbol aksara batak karo itu,”pungkasnya.

Aksara apa pun itu, akan menemui kepunahan ketika pemakainya sudah tidak ada lagi. Dan yang berhasil kuketahui dan berbincang langsung dengan warga yang pernah melihat dan menggunakan aksara tradisional itu baru lah satu. Sedang Indonesia, sebagai negara multikultural, tentu memiliki ragam aksara tradisional. Lalu, masih kah ia bertahan? Masih kah pemakainya melestarikannya? Lantas, adakah jejak yang bisa terlacak?

Khintan.

Khintan

Khintan

Mahasiswa
Tags: AG-user Sumatera Utara
Baca Juga:
Komentar